PAREPARE — Geliat usaha tenun lokal di pesisir Sulawesi Selatan kembali menggeliat. Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menekuni kain tenun tradisional kini mulai memperluas pasarnya hingga ke luar daerah, menjangkau pembeli di sejumlah kota di Pulau Jawa, Kalimantan, hingga Bali melalui jalur pengiriman antarpulau.

Sentra kerajinan tenun di kawasan Bugis, terutama yang mengandalkan serat sutra, telah lama dikenal dengan ragam motif warisan seperti corak kotak-kotak khas yang menjadi ciri kain daerah. Kekuatan motif dan kualitas serat inilah yang menjadi modal perajin untuk bersaing di tengah membanjirnya produk kain pabrikan dengan harga lebih murah.

Para pelaku UMKM menyebut permintaan dari luar daerah meningkat sejak pemasaran digital lebih banyak dimanfaatkan. Foto produk yang ditampilkan di media sosial dan lokapasar memudahkan calon pembeli melihat detail motif tanpa harus datang langsung ke lokasi perajin.

Antara Peluang dan Beban Logistik

Kendati pasar terbuka lebar, perajin masih menghadapi tantangan klasik di negara kepulauan: tingginya biaya pengiriman antarpulau. Ongkos logistik yang besar kerap membuat harga jual kain menjadi kurang kompetitif ketika tiba di tangan pembeli di kota tujuan, sehingga margin keuntungan ikut tergerus.

Sebagian perajin menyiasati hal itu dengan mengirim dalam jumlah besar sekaligus atau menjalin kerja sama dengan distributor di daerah tujuan. Cara ini dinilai menekan biaya per lembar kain, meski tetap menuntut modal awal yang tidak kecil bagi usaha rumahan.

"Pasarnya jelas ada, permintaan dari luar pulau terus masuk. Tapi ongkos kirim ini yang sering bikin harga kami kalah saing. Kalau ada subsidi atau jalur logistik yang lebih murah, kami yakin bisa lebih besar lagi," ujar seorang pemilik usaha tenun di sentra kerajinan setempat.

Pemerintah daerah disebut mulai memberi perhatian melalui pelatihan, bantuan peralatan, hingga fasilitasi pameran agar produk tenun lokal lebih dikenal. Dukungan pembiayaan dari lembaga keuangan juga diharapkan dapat memperkuat modal kerja perajin yang selama ini mengandalkan dana terbatas.

Regenerasi Perajin Jadi Pekerjaan Rumah

Selain soal pasar dan logistik, tantangan lain yang membayangi adalah regenerasi penenun. Sebagian besar perajin yang masih aktif berusia paruh baya, sementara minat generasi muda untuk menekuni proses menenun yang membutuhkan ketelatenan tinggi belum sebesar harapan.

Kalangan pegiat ekonomi kreatif menilai pelestarian tenun tradisional tidak cukup hanya dengan menjaga pasar, tetapi juga memastikan keterampilan ini berpindah ke generasi berikutnya. Program magang, kelas singkat, hingga kolaborasi dengan desainer muda dinilai bisa menjadi jembatan agar kain tenun tetap relevan.

Para perajin berharap momentum perluasan pasar ini terus terjaga. Dengan kombinasi kualitas produk, pemasaran digital, dan dukungan rantai pasok yang lebih efisien, kain tenun lokal diyakini mampu memperkuat ekonomi rumah tangga sekaligus menjaga warisan budaya tetap hidup di tengah arus produk modern.