MAKASSAR — Sebanyak 1.900 peserta dari Kabupaten Pinrang mengikuti peragaan Manasik Haji Cilik tingkat Raudhatul Athfal (RA) se-Kabupaten Pinrang di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Minggu (25/10/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan 835 peserta didik RA, 865 orang tua atau pendamping, serta 200 kepala dan guru RA. Peserta mengenakan busana bernuansa putih sehingga suasana Asrama Haji Sudiang tampak dipenuhi peserta manasik.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pinrang, H. Muhammad Idris Usman, memberikan apresiasi kepada Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA), para guru, orang tua, dan panitia yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.

Menurutnya, manasik haji cilik menjadi momentum penting untuk mengenalkan nilai-nilai keislaman dan menanamkan kecintaan kepada Baitullah sejak usia dini.

“Ini adalah hal yang istimewa. Kita sedang menanamkan nilai-nilai keislaman dan fondasi tauhid kecintaan kepada Baitullah sejak dini. Insyaallah, kerja keras, dedikasi, serta keikhlasan orang tua dan guru menjadi pahala jariyah,” tutur H. Muhammad Idris Usman.

Manasik Jadi Pembelajaran Ibadah Sejak Dini

Peragaan manasik haji memberikan pengalaman kepada peserta didik RA untuk mengenal pelaksanaan ibadah haji melalui praktik yang disesuaikan dengan usia mereka.

Kegiatan tersebut juga menjadi ruang pembelajaran yang melibatkan orang tua dan guru. Pendampingan dilakukan agar peserta didik dapat mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan tertib sekaligus memperoleh pengalaman keagamaan secara langsung.

Selain mengenalkan tata cara ibadah, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan anak terhadap nilai-nilai keislaman dan Baitullah.

Doa untuk Menjadi Tamu Allah

H. Muhammad Idris Usman berharap pengalaman mengikuti manasik haji sejak dini dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter dan kecintaan peserta didik terhadap ibadah.

Ia juga menyampaikan doa agar langkah kecil anak-anak dalam mengikuti peragaan manasik tersebut kelak menjadi kenyataan dengan kesempatan menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.

Melalui kegiatan ini, pendidikan keagamaan bagi anak tidak hanya disampaikan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang dikemas secara edukatif dan menyenangkan. (***)