Luwu Utara — Langkah antisipasi dini yang diterapkan oleh jajaran pertanian di Kabupaten Luwu Utara terhadap ancaman El Nino rupanya membuahkan hasil manis.
Berdasarkan prakiraan BMKG terkait puncak musim kemarau dan El Nino yang diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026, jadwal tanam yang tepat terbukti mampu menyelamatkan petani dari ancaman gagal panen akibat kekeringan.
Koordinator Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Wilayah Luwu Utara, Sarialam MD, menjelaskan bahwa keputusan strategis ini telah dirumuskan sejak jauh-jauh hari melalui forum tudang sipulung yang dihadiri oleh petani, penyuluh, dan jajaran Dinas Pertanian.
Dalam pertemuan tersebut, Sarialam menganjurkan para petani untuk memulai turun sawah dan melakukan penanaman pada minggu ketiga atau minggu keempat Mei 2026.
“Waktu itu saat tudang sipulung, saya anjurkan turun sawah atau tanam mulai minggu ketiga atau keempat Mei 2026. Pertimbangannya bukan hanya terkait dengan hama dan penyakit saja, tetapi juga kalkulasi prediksi puncak musim kemarau,” beber Sarialam belum lama ini di Masamba.
Kebijakan terukur tersebut kini terbukti di lapangan. Petani yang disiplin mengikuti anjuran jadwal tanam dilaporkan aman dari ancaman kekeringan yang biasanya melanda pada puncak kemarau.
Tidak hanya selamat dari ancaman kekeringan, lanjut Sarialam, para petani yang mengikuti jadwal tanam ini juga menikmati keuntungan ganda.
“Mereka dapat memanen lebih awal di saat pasokan mulai jarang, sehingga berhasil mendulang harga jual gabah yang tinggi di tingkat petani, yakni berkisar antara Rp7.150 hingga Rp7.300 per kilogram,” ungkap alumnus Unanda Palopo ini.
“Angka ini berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah ditentukan,” sambungnya sembari berharap agar petani yang lain bisa segera panen di tengah musim kemarau.
Keberhasilan ini menjadi contoh nyata sinergi antara mitigasi iklim berbasis data meteorologi dan kearifan lokal melalui tudang sipulung, yang tidak hanya melindungi ketahanan pangan daerah, tetapi juga mendongkrak kesejahteraan petani di Bumi La Maranginang. (LHr)
