Di awal September 2026, publik dikejutkan oleh sebuah kabar yang mematahkan hati jutaan penggemar sepak bola di dunia. Harapan akan bulan September yang ceria bagi para pendukung Timnas Argentina harus pupus dan berganti menjadi September kelabu. Sang megabintang, Lionel Messi, resmi memutuskan untuk gantung sepatu dari kancah internasional.

Seluruh pendukung meratapi keputusan Messi, yang sejatinya belum benar-benar siap menerima pengunduran diri sang megabintang dari panggung internasional. Namun, keputusan itu telah ia sampaikan kepada publik melalui tulisan tangan di atas kertas yang diunggah di akun Instagram pribadinya. Ia resmi menggantungkan jersey kebanggaan timnas Argentina. 

Laga final Piala Dunia kontra Spanyol menjadi panggung terakhir baginya. Di usianya yang telah menginjak usia 39 tahun, Messi memilih untuk melangkah mundur. Bukan karena kehabisan sihir di kakinya, melainkan karena panggilan tubuh dan duka mendalam atas berpulangnya sang ayah, sosok yang menjadi pilar utama dalam kariernya.

Sejatinya, angka-angka statistik Messi terbilang masih sangat kompetitif di usianya yang sudah 39 tahun. Ia tidak menunjukkan performa yang menurun. Produktivitas gol dan assist tetap berada pada level tertinggi. Kecepatan fisiknya mungkin tak selincah beberapa tahun lalu, namun Messi menutupnya dengan kecerdasan taktikal dan visi bermain yang tiada tanding. 

Ia tak lagi berlari mengejar bola. Bola dan permainanlah yang tunduk pada iramanya. Kejeniusan itulah yang secara spektakuler kembali membawa Argentina menembus babak final Piala Dunia 2026. Walau pada akhirnya Argentina mesti merelakan trofi Piala Dunia tersebut harus berpindah ke tangan Spanyol, karena Messi dkk takluk dengan skor tipis, 0-1.

Sinyal perpisahan sudah terpancar sehari sebelum pengumuman bersejarah itu. Dalam lanjutan MLS, Messi tampil fenomenal saat membawa Inter Miami mengalahkan Montreal dengan skor 7-1. Empat gol dan satu assist meledak dari kaki Messi. Namun, ada yang tak biasa. Setiap kali bola menggetarkan jala lawan, tak ada selebrasi emosional. 

Wajah Messi datar-datar saja. Tak ada selebrasi yang kemudian menjadi ikonik seperti yang kerap ia lakukan usai membobol jala gawang lawan. Yang ada hanya sebuah gestur dingin dari seorang legenda yang tahu bahwa tugasnya di lapangan hijau sudah mendekati ujung. Padahal Leo Messi mencetak empat gol dan satu assist di usia 39 tahun. Amazing!

Secara prestasi, Messi telah menuntaskan sepak bola. Ia tidak lagi memiliki utang sejarah. Ia tidak perlu lagi membuktikan apapun kepada penggemar dan pembencinya. Lemari prestasinya sudah penuh dengan berbagai trofi. Sebuah pameran kesempurnaan dari seorang pesepak bola yang terlahir dengan keterbatasan, tetapi berakhir dengan kesempurnaan.

Bersama Argentina, ia telah memenangi kejuaraan mayor, baik timnas muda maupun timnas senior. Sebut saja Piala Dunia U-20 2005, Emas Olimpiade 2008, Copa America 2021 dan 2024, Finalissima 2024, serta Piala Dunia 2022. Termasuk gelar mayor bersama klubnya, Barcelona, seperti Liga Champions, La Liga, Piala Dunia Antarklub, dan berbagai piala domestik lainnya.

Belum lagi pencapaian individunya, yaitu 8 Ballon d'Or, pencetak gol terbanyak sepanjang masa untuk Argentina, serta manusia dengan koleksi trofi terbanyak sepanjang sejarah sepak bola. Kini, ia pergi bukan karena ditinggalkan oleh kemampuannya, melainkan karena ia telah memberikan segalanya hingga tetes keringat dan cita-cita terakhirnya. 

Sepak bola internasional memang kehilangan detak jantung terindahnya, tetapi sepak bola akan terus berputar. Bakat-bakat baru akan terus bermunculan, dan rekor-rekor baru mungkin akan tercipta. Namun, tak ada yang bisa benar-benar menggantikan Messi di panggung internasional. Terima kasih telah membuat kami percaya bahwa keajaiban itu nyata di atas rumput hijau. Gracias, Leo! (LHr)