Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi sorotan utama panggung internasional setelah Iran menegaskan akan menutup total Selat Hormuz dan menghentikan seluruh pertukaran pesan melalui mediator dengan Amerika Serikat. Jalur sempit yang memisahkan Iran dengan Semenanjung Arab itu merupakan salah satu titik tersibuk dan paling rawan dalam peta energi dunia.

Sekitar seperlima pasokan minyak global mengalir melewati selat tersebut, demikian pula hampir seluruh ekspor gas alam cair (LNG) dari Qatar. Karena posisinya yang strategis, gangguan sekecil apa pun di kawasan ini berpotensi menggoyang pasar energi secara global.

Lonjakan Harga dan Beban Inflasi

Sejumlah analis memperingatkan bahwa apabila penutupan berlangsung berkepanjangan, harga minyak mentah dapat melonjak jauh di atas level normal, dengan proyeksi yang menyebut potensi tembus 150 hingga 200 dolar AS per barel. Kenaikan tajam ini tidak hanya berdampak pada bahan bakar, tetapi juga merembet ke biaya pengapalan, logistik, hingga harga pangan.

Para ekonom menilai gelombang kenaikan harga energi ini berisiko menghidupkan kembali tekanan inflasi yang sebelumnya mulai mereda di banyak negara. Negara-negara dengan sektor industri besar yang bergantung pada energi impor disebut paling rentan menghadapi guncangan ini.

Selat Hormuz adalah titik tercekik energi dunia. Penutupannya, meski sementara, mampu mengirim gelombang kejut ke seluruh rantai pasok global dan menekan negara-negara importir energi.

Bagi negara-negara berkembang yang mengandalkan impor bahan bakar, dampaknya bisa terasa langsung pada harga di tingkat konsumen serta beban subsidi pemerintah. Pelemahan daya beli dan tekanan pada neraca perdagangan menjadi ancaman nyata yang mengintai.

Upaya Mencari Jalan Keluar

Komunitas internasional mendorong langkah diplomasi untuk meredakan ketegangan dan membuka kembali jalur pelayaran. Sejumlah negara penghasil minyak mempertimbangkan peningkatan produksi guna menstabilkan pasokan, meski kapasitas cadangan dinilai terbatas untuk menutup kekosongan akibat tertutupnya Hormuz.

Pelaku pasar tetap berharap krisis ini dapat diselesaikan dalam waktu tidak terlalu lama. Pergerakan harga acuan minyak yang sempat turun menunjukkan ekspektasi adanya penyelesaian, namun volatilitas tinggi masih membayangi seiring belum adanya kepastian politik di kawasan. Situasi ini menjadi pengingat betapa rapuhnya keseimbangan energi global ketika dihadapkan pada konflik geopolitik.