Ada pemimpin yang memimpin dengan berjarak. Ada pula pemimpin yang meruntuhkan jarak demi merangkul masyarakatnya. Di Tana Luwu, tepatnya di Kabupaten Luwu Utara, nama Luthfi Andi Mutty (LAM) bukan sekadar catatan sejarah di atas kertas pemekaran daerah.
Sosok Luthfi Andi Mutty adalah napas awal, arsitek, sekaligus sebagai penjaga fondasi dari sebuah kabupaten yang lahir di tengah gelora transisi reformasi bernama Luwu Utara. Daerah ini adalah hasil pemekaran dari kabupaten induknya, Kabupaten Luwu, dan resmi mekar pada 1999.
Pada Selasa, 1 September 2026, sosok yang akrab disapa Opu Luthfi ini genap berusia 70 tahun. Rambutnya telah dihiasi uban, tanda kesetiaan waktu pada raga manusia. Namun, di balik itu, ada ketegasan dan komitmen pada kebugaran hidup sehat yang tetap terjaga di usia senjanya.
Seperti diketahui, Opu Luthfi adalah salah satu sosok historis di balik pemekaran daerah. Lahirnya Luwu Utara pada tahun 1999 bukanlah perkara mudah. Sebagai pecahan dari Kabupaten Luwu, wilayah ini dulunya dikenal sangat rentan terhadap gejolak sosial dan rawan kerusuhan.
Di sinilah kepemimpinan Opu Luthfi diuji. Menjabat pertama kali sebagai caretaker (1999–2000), lalu dipercaya sebagai bupati definitif (2000–2004), hingga terpilih kembali secara demokratis melalui Pilkada langsung pertama (2005–2009), ia melakukan satu hal yang mengubah segalanya.
Di awal kepemimpinannya, Opu Luthfi mendapat tantangan yang tak mudah di sektor keamanan. Gejolak sosial seperti hantu yang menakutkan. Namun, dengan kepemimpinannya yang tegas, ia mampu meredam segala ketegangan dengan rasa aman dan adanya kepastian soal keadilan.
Di bawah kepemimpinannya, wilayah yang dulu penuh bara konflik “disulap” menjadi ruang hidup yang tenang dan damai. Namun, warisan terbesar paling membekas di hati masyarakat bukanlah infrastruktur atau deretan statistik kemajuan di sektor pendidikan, kesehatan, dan pertanian.
Warisan terbesar Opu Luthfi adalah filosofi kepemimpinan yang begitu langka, yaitu Desakralisasi Birokrasi. Kesan berjarak yang kerap melekat pada kursi kekuasaan dihilangkan. Rumah jabatan bukan lagi benteng yang begitu eksklusif, tetapi menjelma sebagai rumah rakyat yang aman.
Birokrasi yang kaku dicairkan oleh keteladanan seorang pemimpin yang membumi. Tak heran jika masyarakat menyematkan titel “Sang Pioneer Luwu Utara” kepadanya. Opu Luthfi merintis jalan saat belum ada jalan, menenangkan ketakutan saat semua dilanda kecemasan, dan meletakkan standar kepemimpinan yang disegani hingga hari ini.
Tujuh dekade telah berlalu dalam lembaran hidup seorang Opu Luthfi A. Mutty. Dari ruang-ruang birokrasi yang telah ia ubah menjadi lebih humanis hingga dedikasi seumur hidup demi kemajuan daerah, jejaknya telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari denyut nadi Luwu Utara.
Selamat ulang tahun ke-70, Opu Luthfi Andi Mutty. Semoga sehat selalu dalam setiap aktivitas, panjang umur dalam keberkahan, dan terima kasih telah mengajarkan arti sebuah kepemimpinan yang sejati dan egaliter, yaitu melayani tanpa batas, dan memimpin dengan tegas.
Opu LAM memiliki nama lengkap Muchtar Luthfi Andi Mutty. Ia lahir pada 1 September 1956 silam. Selain menjabat sebagai Bupati Luwu Utara selama dua periode, Opu LAM pernah menjadi anggota DPR-RI periode 2014–2019 mewakili daerah pemilihan Sulawesi Selatan III. (LHr)
