Sabtu, 31 Oktober 2026, menjadi hari yang sarat makna dan emosional bagi perjalanan birokrasi di Kabupaten Luwu Utara. Di Aula La Galigo Kantor Bupati Luwu Utara, Jumal Jayair Lussa resmi dilantik Bupati Andi Abdullah Rahim sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) definitif ke-6.

Bagi sebagian orang, pelantikan ini mungkin sekadar rotasi jabatan biasa. Namun, tidak bagi saya. Sebagai seorang PNS yang mengabdikan diri sejak pengangkatan 2003, momen penahbisan Sekda Jumal Jayair Lussa ini merupakan sebuah kilas balik yang sungguh luar biasa bagi saya. 

Saya adalah saksi hidup yang mungkin beruntung atau mungkin ditakdirkan untuk merasakan, membersamai, dan menyelami karakter kepemimpinan dari enam Sekda yang pernah merasakan jabatan karier tertinggi di jajaran ASN, sejak daerah ini lahir pada 1999 hingga hari ini.

Saya resmi mengenakan seragam ASN sejak 2003 silam, dan saat itu, Muhammad Nurdin adalah Sekda pertama Luwu Utara di bawah kepemimpinan Bupati Luthfi Andi Mutty. Saya menyebutnya ini sebagai Era Fondasi di bawah “Sang Jenderal ASN” bernama Muhammad Nurdin.    

 

Sebagai PNS baru angkatan 2003, masa kepemimpinan Muhammad Nurdin adalah fase adaptasi penuh disiplin. Di bawah kepemimpinan visioner Bupati Luthfi Andi Mutty, Nurdin meletakkan batu pertama tata kelola pemerintahan Kabupaten Luwu Utara yang baru saja mekar. 

Karakter beliau yang tegas, kebapakan, dan penuh wibawa menjadi fondasi mental bagi kami para aparatur muda saat itu untuk memahami arti sejati dari pengabdian kepada daerah yang baru ini. Nurdin adalah sosok Sekda teladan yang meninggalkan jejak mendalam di hati kami.

Setelah Nurdin pensiun, estafet kemudian beralih kepada H.A. Chaerul Pangerang. Masih di masa kepemimpinan Bupati Luthfi Andi Mutty, Chaerul Pangerang hadir dengan gaya kepemimpinan yang cukup tegas, teliti, birokratis, serta sangat memperhatikan detail administratif. 

Di masa kepemimpinan H.A. Chaerul Pangerang sebagai Sekda kedua, roda birokrasi tertata makin sistematis. Bahkan, saya kerap menyambangi beliau untuk melakukan wawancara guna meminta tanggapan terkait dinamika isu birokrasi yang berkembang di tengah masyarakat.

Saya menyebut era Sekda Chaerul Pangerang sebagai Era Konsolidasi. Di mana kami saat itu makin beranjak matang sebagai PNS muda yang terus belajar bagaimana ketelitian administratif menjadi kunci utama dalam memberikan pelayanan prima kepada masyarakat Luwu Utara.

Memasuki era kepemimpinan Bupati Arifin Junaidi, tongkat estafet Sekda selanjutnya dipegang oleh Mujahidin Ibrahim. Karakter kepemimpinan beliau dikenal sangat tenang, tetapi komunikatif. Yang paling mudah diingat dari sosoknya adalah sangat mengedepankan kebersamaan. 

Saya tahu betul karakter beliau yang tenang, karena pernah menjadi atasan langsung saya di Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan. Suasana kerja terasa lebih cair, namun tetap menuntut produktivitas tinggi di tengah dinamika birokrasi yang mulai berkembang pesat.

Saya menyebut kepemimpinan Sekda ketiga Luwu Utara ini sebagai Era Dinamika Baru, karena berbagai hal yang baru terus berkelindan dalam kehidupan birokrasi ASN yang penuh tantangan, yang menuntut profesionalisme kerja yang optimal dari para abdi negara Luwu Utara.

Setelah Mujahidin menjabat, posisi Sekda diisi oleh Abdul Mahfud. Menariknya, ia mencatatkan sejarah tersendiri sebagai Sekda yang mengabdi di bawah dua era kepemimpinan bupati berbeda, yaitu pada masa transisi dari Bupati Arifin Junaidi ke Bupati Indah Putri Indriani.

Menariknya, karakter beliau tidak jauh berbeda dengan sekda sebelumnya: tenang, bijaksana, sabar, berwibawa, dan mampu menjadi figur penengah yang ulung. Kualitas inilah yang membuat Bupati Indah Putri Indriani mempertahankannya untuk membenahi tata kelola ASN.

Karakter Mahfud memang sangat terasa di masa transisi. Sifatnya yang kebapakan membuatnya sangat dihormati kalangan ASN. Beliau adalah guru diplomasi birokrasi yang mengajarkan kami bagaimana menjaga stabilitas institusi di tengah pergantian tampuk kekuasaan politik.

Saya menyebut era Sekda keempat ini sebagai Era Jembatan Dua Kepemimpinan karena mampu memberikan kestabilan optimal di birokrasi Pemda Luwu Utara di tengah dinamika sosial, politik, dan keamanan. Era Sekda keempat ini sukses menjaga roda pemerintahan berjalan stabil.

Ketika Abdul Mahfud memasuki masa pensiun, estafet dilanjutkan oleh Armiady masih di bawah kepemimpinan Bupati perempuan pertama di Sulsel, Indah Putri Indriani. Di masa ini, tantangan birokrasi makin kompleks dengan tuntutan digitalisasi dan kecepatan pelayanan publik. 

Gaya kepemimpinan mantan penyuluh pertanian ini yang cepat, cekatan, solutif, dan berorientasi pada hasil memberikan warna segar bagi percepatan program-program strategis daerah. Di masa kepemimpinan Sekda kelima ini, saya menyebutnya sebagai Era Akselerasi Penuh Solusi.

Di pengujung Oktober 2026, sebuah babak baru yang menghadirkan rasa haru yang sulit dilukis dengan kata-kata atau frasa apapun. Jumal Jayair Lussa, letting PNS seangkatan tahun 2003 ini, secara resmi dilantik sebagai Sekda definitif ke-6 oleh Bupati Andi Abdullah Rahim.

Sebelum didefinitifkan, ia telah membuktikan kapasitasnya dengan mengemban amanah sebagai Pj. Sekda selama kurang lebih setahun. Melihat teman yang berjuang sejak 2003 itu menduduki posisi puncak karier tertinggi seorang ASN memberikan energi emosional tersendiri. 

Ini merupakan bukti nyata bagi saya bahwa dedikasi, kerja keras, integritas, serta loyalitas pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri. Inilah puncak kebanggan tersendiri bagi saya karena seorang teman sesama PNS 2003 kini berdiri gagah mencapai puncak karier sebagai ASN.

Menyaksikan estafet enam sekda yang berbeda karakter adalah sebuah “sekolah kehidupan” yang luar biasa dalam perjalanan karier saya sebagai ASN. Dari Pak Nurdin hingga Pak Jumal, masing-masing telah meninggalkan warisan kepemimpinan yang membentuk diri saya hari ini.

Namun, melihat teman seangkatan 2003 duduk di kursi “Jenderal ASN” memberikan kebanggaan tersendiri bagi saya. Selamat bekerja, Pak Sekda Jumal Jayair Lussa. Teruslah membawa birokrasi Luwu Utara makin profesional, melayani, dan menjadi teladan bagi kami semua. (LHr)