PAREPARE – Rumah Sakit dr. Hasri Ainun Habibie Kota Parepare memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat melalui pelatihan Code Red dan simulasi penanganan bencana kebakaran bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Parepare, Rabu (26/8/2026).

Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman dan kesiapan staf dalam mengambil tindakan awal ketika terjadi kebakaran di lingkungan rumah sakit.

Wakil Direktur Pelayanan RS dr. Hasri Ainun Habibie Parepare, Ilham Willem, mengatakan pelatihan bersama Damkar dilakukan agar staf memahami langkah yang harus diambil ketika menghadapi kondisi darurat.

“Jadi, hari ini kita ada kegiatan untuk simulasi bencana terutama di bidang kebakaran. Olehnya karena itu, kami mengundang Damkar untuk memberikan materi dan petunjuk, kemudian dilanjutkan dengan simulasi,” kata Ilham.

Selain memberikan materi dan simulasi, pihak rumah sakit juga meminta Damkar melakukan penilaian terhadap kesiapan gedung, jalur evakuasi, serta peralatan penanggulangan kebakaran yang tersedia.

“Kami meminta mereka menilai bagaimana kesiapan gedung, jalur evakuasi dan peralatan yang ada. Kami ingin mengetahui apa yang masih kurang sehingga ke depan bisa kami perbaiki,” ujarnya.

Staf Dilatih Hadapi Kondisi Darurat

Ilham menjelaskan, simulasi bencana menjadi bagian dari upaya membangun kesiapan seluruh staf ketika menghadapi keadaan yang tidak diinginkan.

Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung secara rutin setiap tahun. Selain memperkuat kesiapsiagaan, pelaksanaan simulasi juga menjadi bagian dari pemenuhan persyaratan akreditasi rumah sakit.

Menurutnya, latihan secara berkala diperlukan agar staf semakin memahami prosedur serta tugas masing-masing ketika terjadi keadaan darurat.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Parepare, Wahidin Syanur, mengatakan pihaknya berkolaborasi dengan rumah sakit untuk memberikan pemahaman mengenai penanganan awal kebakaran.

“Jadi, penanganan awal apabila terjadi bencana kebakaran, kita harapkan seluruh fungsi yang ada di rumah sakit ini dapat berperan dengan baik untuk menanggulangi kebakaran sejak awal,” kata Wahidin.

Ia menilai kesiapsiagaan sangat penting karena rumah sakit merupakan fasilitas publik yang di dalamnya terdapat pasien, tenaga medis, dan masyarakat lainnya.

“Ini penting sekali karena gedung ini adalah gedung publik. Di dalamnya ada pasien dan juga tim-tim medis. Tentu kita berupaya secara maksimal apabila terjadi bencana kebakaran, seluruh komponen yang ada dapat kita selamatkan,” jelasnya.

Antisipasi Tak Hanya Kebakaran

Ketua K3RS RS dr. Hasri Ainun Habibie Parepare, Muhammad Ishaq Nusu, mengatakan simulasi kebakaran merupakan program K3RS yang dilaksanakan setiap tahun.

Menurutnya, potensi bencana dapat muncul kapan saja, baik akibat kondisi lingkungan maupun kesalahan manusia. Karena itu, latihan diperlukan untuk memastikan seluruh unsur rumah sakit memiliki kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan.

“Kita tidak mengetahui cuaca dan kondisi. Hal-hal human error juga bisa menyebabkan terjadinya kebakaran atau bencana lainnya,” ujarnya.

Selain kebakaran, pihak rumah sakit turut mengantisipasi potensi bencana lain karena lokasinya berada di kawasan pesisir.

“Apalagi kita berada di tepi laut. Tsunami atau bencana lainnya bisa menyebabkan getaran. Karena itu, kita antisipasi dengan simulasi setiap tahun,” katanya.

Melalui pelatihan Code Red dan simulasi tersebut, RS dr. Hasri Ainun Habibie berharap seluruh staf memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing saat menghadapi keadaan darurat.

Kesiapan tersebut diharapkan dapat mendukung upaya perlindungan terhadap pasien, tenaga medis, pegawai, serta seluruh penghuni rumah sakit apabila terjadi bencana. (*)