PINRANG — Sejumlah petani tambak di Kabupaten Pinrang mengeluhkan menyusutnya pasokan air seiring datangnya musim kemarau. Berkurangnya volume air di petak tambak dikhawatirkan mengganggu pertumbuhan komoditas utama seperti udang dan ikan bandeng yang menjadi tumpuan penghidupan warga pesisir.
Saat kemarau, air di tambak menjadi minim sehingga udang dan bandeng tumbuh tidak normal. Suhu air yang meningkat, kadar garam yang menanjak, serta perubahan kualitas air lain dapat menekan kesehatan biota tambak, bahkan berisiko menyebabkan kematian bila kondisi memburuk dalam waktu lama.
Pinrang dikenal sebagai salah satu sentra perikanan budidaya di Sulawesi Selatan, termasuk untuk udang windu yang sebagian hasilnya diserap pasar ekspor. Karena itu, gangguan pada siklus budidaya akibat kekurangan air tidak hanya berdampak pada petambak, tetapi juga pada rantai pasok dan pendapatan daerah.
Andalkan Pompanisasi dan Pengaturan Air
Untuk bertahan, sebagian petambak mengandalkan pompanisasi guna mengalirkan air ke petak yang mulai mengering. Namun cara ini menambah biaya operasional, terutama untuk bahan bakar dan perawatan mesin, sehingga tidak semua petambak mampu menerapkannya secara konsisten.
Di sisi lain, sejumlah pelaku budidaya memandang kemarau sebagai kesempatan melakukan pengeringan dan pemulihan dasar tambak yang selama ini sulit dilakukan saat musim hujan. Pengeringan yang tepat dapat memperbaiki kualitas lahan untuk siklus tanam berikutnya, asalkan pengelolaan air diatur dengan cermat.
"Kalau air kurang, udang dan bandeng tidak tumbuh maksimal, bahkan bisa banyak yang mati. Kami berharap saluran air diperbaiki dan ada bantuan pompa supaya tambak tetap bisa jalan saat kemarau," ujar seorang petambak di kawasan pesisir Pinrang.
Petambak berharap pemerintah daerah turun tangan memperbaiki saluran irigasi tambak dan jaringan air payau yang menjadi urat nadi budidaya. Selain itu, pendampingan teknis untuk menjaga kualitas air dan mencegah penyakit dinilai penting agar produksi tetap stabil di tengah cuaca yang menantang.
Diversifikasi dan Adaptasi Jadi Pilihan
Sebagian petambak mulai mempertimbangkan diversifikasi komoditas, misalnya membudidayakan ikan nila salin yang dinilai lebih tahan terhadap perubahan kondisi air payau. Strategi adaptasi semacam ini diharapkan mengurangi risiko gagal panen ketika satu komoditas terdampak cuaca ekstrem.
Kalangan penyuluh perikanan menilai penguatan kapasitas petambak dalam mengelola kualitas air menjadi kunci menghadapi musim kemarau. Pemantauan suhu, salinitas, dan kadar oksigen secara rutin dapat membantu petambak mengambil langkah lebih dini sebelum kondisi tambak memburuk.
Pemerintah daerah diharapkan menjadikan persoalan air tambak ini sebagai bagian dari perhatian terhadap sektor perikanan. Dengan dukungan infrastruktur dan pendampingan yang memadai, petambak Pinrang diyakini mampu menjaga keberlanjutan usaha sekaligus menopang pasokan udang dan bandeng bagi pasar yang lebih luas.