PINRANG – Pendidikan tidak cukup hanya membuat peserta didik pintar, tetapi juga harus membentuk pribadi yang berakhlak. Karena itu, guru didorong menjadikan cinta sebagai pendekatan dalam mengajar dan mendidik.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pinrang, H. Muhammad Idris Usman, saat membuka Workshop Kurikulum Berbasis Cinta di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Punnia, Rabu (19/8/2026).
Workshop mengusung tema “Mengajar Dengan Cinta, Menginspirasi dengan Makna, Menggerakkan Dengan Aksi” dan berlangsung selama dua hari, 19–20 Agustus 2026. Kegiatan diikuti 50 peserta dari tingkat MTs dan MA.
Ketua Panitia, Munira, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman tenaga pendidik mengenai pola pembelajaran berbasis cinta.
Guru Bukan Sekadar Pengajar
Dalam arahannya, H. Muhammad Idris Usman menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu dan akhlak dalam dunia pendidikan.
Menurutnya, guru memiliki peran penting dalam membangun fondasi karakter peserta didik. Proses pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi, tetapi juga bagaimana guru memberikan keteladanan dan membangun hubungan positif dengan peserta didik.
“Mengajar dan mendidiklah dengan cinta. Benteng dan pondasi akhlak harus dibentuk sejak kecil. Jadilah guru yang terus belajar agar ilmu yang kita berikan membawa keberkahan dunia dan akhirat,” ujarnya.
Ia juga mengutip ayat dan hadis mengenai kemuliaan derajat seorang guru yang dilandasi iman dan takwa.
Pesan tersebut menempatkan guru bukan sekadar sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai sosok yang ikut membentuk karakter dan kepribadian peserta didik.
Cinta Diterjemahkan dalam Proses Pembelajaran
Kurikulum Berbasis Cinta diarahkan agar nilai kasih sayang, penghargaan, keteladanan, dan kepedulian tidak berhenti sebagai konsep, tetapi hadir dalam proses pembelajaran sehari-hari.
Pendekatan tersebut dapat diterapkan melalui komunikasi yang baik antara guru dan peserta didik, menciptakan suasana kelas yang aman dan nyaman, serta membimbing siswa ketika menghadapi kesalahan tanpa mengabaikan pembentukan disiplin dan tanggung jawab.
Dengan pendekatan seperti itu, pembelajaran diharapkan tidak hanya menghasilkan capaian akademik, tetapi juga membantu peserta didik tumbuh sebagai pribadi yang memiliki karakter dan akhlak.
Dari Workshop ke Ruang Kelas
Workshop ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan peningkatan pemahaman bagi para peserta.
Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat dibawa kembali ke madrasah dan diterapkan dalam proses pembelajaran.
Dengan demikian, guru dapat mengembangkan pola pembelajaran yang lebih bermakna sekaligus memperkuat pendidikan karakter di lingkungan MTs dan MA.
Kehadiran 50 peserta dari dua jenjang pendidikan juga membuka ruang berbagi pengalaman mengenai bagaimana nilai-nilai cinta dapat diterapkan sesuai karakteristik peserta didik dan lingkungan madrasah masing-masing.
Pembukaan kegiatan turut dihadiri Direktur Pondok Pesantren Darul Arqam Andi Syamiluddin, Kepala KUA Mattiro Bulu H. Alamsyah Sa'ban Miru, Kepala MA Punnia, Kepala MTs Muhammadiyah Punnia, jajaran pimpinan pesantren, serta tamu undangan lainnya.
Workshop yang berlangsung hingga Kamis (20/8/2026) ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas pendidik sekaligus mendorong lahirnya pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan akhlak peserta didik.
Sumber: Kemenag Pinrang
