PAREPARE — Pemerintah Kota Parepare tengah merampungkan rancangan penataan kawasan tepi laut secara terintegrasi. Konsep yang dikembangkan tidak sekadar mempercantik garis pantai, melainkan menyatukan fungsi ruang publik, ruang ekonomi warga, serta sistem pengelolaan pesisir yang berkelanjutan dalam satu kerangka perencanaan.
Sebagai kota pelabuhan di pantai barat Sulawesi, Parepare memiliki sekitar seperlima wilayahnya berupa kawasan pesisir. Potensi itu selama ini dinilai belum tergarap maksimal. Sejumlah ruang publik berbasis tepi laut sudah lebih dahulu tumbuh, seperti kawasan Pantai Senggol, namun pengembangannya masih berjalan sendiri-sendiri tanpa keterhubungan antarsegmen.
Lewat rencana baru ini, Pemkot ingin menata jalur sirkulasi yang menyambungkan pusat kota dengan tepian pantai, sekaligus menghubungkan satu fungsi kawasan dengan fungsi lainnya. Penekanan diberikan pada pendekatan berkelanjutan, mulai dari pemilihan material yang ramah lingkungan hingga penataan drainase agar kawasan tidak mudah tergenang saat pasang dan musim hujan.
Ruang Publik dan Ekonomi Berjalan Beriringan
Salah satu titik berat rancangan adalah memastikan ruang publik tidak menggusur aktivitas ekonomi yang telah hidup di tepi laut. Pedagang kaki lima, sentra kuliner malam, hingga kelompok nelayan rencananya diberi ruang tersendiri dalam tata letak baru, lengkap dengan area parkir dan jalur pejalan kaki yang lebih tertib.
Pemkot juga menyiapkan zona promenade, taman tematik, dan dermaga rekreasi kecil sebagai daya tarik kunjungan. Perencanaan tersebut diklaim mengacu pada kajian tata ruang dan masukan akademisi yang sebelumnya meneliti konsep waterfront city untuk Parepare dengan pendekatan arsitektur berkelanjutan.
"Kami tidak ingin penataan ini hanya indah dipandang, tetapi sepi manfaat. Tepi laut harus tetap menjadi ruang hidup warga, tempat orang berdagang, berolahraga, dan berkumpul, sekaligus terjaga ekosistemnya," ujar seorang pejabat di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Parepare.
Rencana penataan disebut akan dibagi dalam beberapa tahap mengikuti kemampuan anggaran daerah. Tahap awal difokuskan pada penataan jalur pedestrian, penerangan, dan ruang terbuka di segmen yang paling ramai dikunjungi. Tahap berikutnya menyusul pengembangan dermaga rekreasi serta penguatan ruang ekonomi warga.
Menjaga Pesisir, Bukan Sekadar Estetika
Aspek lingkungan menjadi catatan penting dalam pembahasan. Sejumlah kalangan mengingatkan agar penataan tidak mengabaikan fungsi alami pesisir, termasuk perlindungan terhadap abrasi dan pengelolaan sampah laut yang kerap menumpuk di sekitar garis pantai. Pemkot menyatakan komitmennya untuk memasukkan komponen mitigasi tersebut ke dalam dokumen perencanaan.
Warga di sekitar kawasan menyambut wacana ini dengan harapan sekaligus kehati-hatian. Sebagian berharap penataan membuka lapangan kerja dan menaikkan nilai kawasan, sementara sebagian lain meminta agar proses pembangunan tidak mengganggu mata pencaharian nelayan dan pedagang kecil.
Pemkot Parepare menargetkan dokumen rencana rampung dalam tahun berjalan untuk kemudian dibahas bersama DPRD dan masyarakat. Jika prosesnya lancar, penataan kawasan tepi laut terintegrasi diharapkan menjadi salah satu wajah baru kota pelabuhan ini di Selat Makassar — yang memadukan kenyamanan publik, denyut ekonomi lokal, dan keberlanjutan lingkungan dalam satu hamparan pantai.