SIDRAP — Ada tempat yang mungkin hanya menjadi bagian dari perjalanan tugas, tetapi ada pula tempat yang perlahan berubah menjadi rumah. Bagi Muhammad Idris Usman, Sidenreng Rappang adalah salah satunya.

Selama empat tahun sembilan bulan, sejak 2021 hingga 2025, Muhammad Idris Usman mendapat amanah memimpin Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidenreng Rappang. Masa pengabdian itu kini telah berlalu, tetapi kesan tentang Bumi Nene Mallomo masih melekat dalam ingatannya.

Dalam tulisannya, Idris menggambarkan Sidrap sebagai daerah yang bukan hanya dikenal sebagai lumbung beras, tetapi juga lumbung ulama dan penghafal Al-Qur’an.

Ia mengenang masyarakat Sidrap sebagai pribadi-pribadi yang membuatnya tidak pernah merasa menjadi orang luar.

“Tidak ada kata yang paling tepat untuk menggambarkan Kabupaten Sidenreng Rappang selain sebuah rumah yang hangat,” tulisnya.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Sidrap, ia mengaku mendapat sambutan yang membuatnya merasa diterima sebagai bagian dari keluarga, bukan sekadar seorang pejabat yang datang menjalankan tugas.

Kehangatan yang Ditemukan dalam Pengabdian

Menurut Idris, keramahan masyarakat Sidrap bukan sekadar kesan yang muncul dalam perjumpaan sesaat. Nilai kebersamaan itu ia rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menyebut budaya sipakario-rio, sipatokkong, dan sipakalebbi sebagai nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Baginya, senyum, keramahan, serta kesediaan masyarakat untuk saling membantu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan tugasnya selama berada di Sidrap.

Kehangatan itu juga ia rasakan melalui hubungan dengan Pemerintah Kabupaten Sidrap. Idris secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif dan Wakil Bupati Nurkanaah beserta jajaran pemerintah daerah yang menurutnya memberikan ruang bagi Kementerian Agama untuk membangun sinergi dalam pelayanan kepada masyarakat.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada keluarga besar Kementerian Agama Kabupaten Sidrap yang selama masa tugasnya menjadi rekan dalam menjalankan berbagai tanggung jawab pelayanan keagamaan.

Ketika Tempat Bertugas Menjadi Rumah

Empat tahun sembilan bulan tentu bukan waktu yang singkat. Namun, bagi Idris, perjalanan tersebut terasa cepat karena dipenuhi berbagai pengalaman dan kebaikan.

Ia tidak hanya mengenang tugas-tugas kedinasan, tetapi juga hubungan kemanusiaan yang terbentuk selama berada di tengah masyarakat Sidrap.

Sidrap, dalam pandangannya, menjadi cermin daerah yang damai dan bermartabat. Kedermawanan masyarakat tidak hanya ia lihat dari materi, tetapi terutama dari kelapangan hati dalam membantu sesama.

Karena itu, pergantian masa tugas tidak serta-merta menghapus keterikatan emosional yang telah terbentuk.

“Meski masa tugas telah berganti, sebagian dari hati saya akan selalu tertinggal di Sidrap,” tulis Idris.

Ungkapan tersebut menjadi penanda bahwa sebuah pengabdian tidak selalu berakhir ketika jabatan berpindah. Ada hubungan, pengalaman, dan kenangan yang tetap dibawa pulang.

Doa untuk Bumi Nene Mallomo

Di bagian akhir tulisannya, Idris menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Sidrap, jajaran pemerintah daerah, serta seluruh keluarga besar Kementerian Agama Kabupaten Sidrap.

Ia mengaku bersyukur pernah mendapatkan kepercayaan untuk mengabdi sekaligus merasakan penerimaan yang begitu hangat selama berada di daerah tersebut.

Kini, setelah masa tugasnya berakhir, doa menjadi bagian dari ungkapan yang ia tinggalkan untuk Sidrap.

Ia berharap Kabupaten Sidenreng Rappang senantiasa mendapat keberkahan, masyarakatnya berada dalam lindungan Allah SWT, serta tetap menjadi daerah yang damai, ramah, dan dipenuhi kebaikan.

Bagi Muhammad Idris Usman, Bumi Nene Mallomo akhirnya bukan sekadar sebuah wilayah tempat ia pernah bertugas. Sidrap telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya—sebuah tempat yang meninggalkan jejak pengabdian sekaligus kenangan yang sulit dilupakan. (FHR)