Moderasi beragama kembali ditegaskan sebagai salah satu pilar penting menuju visi Indonesia Emas. Pemerintah memandang sikap beragama yang seimbang, jauh dari ekstremisme maupun sikap meremehkan keyakinan orang lain, sebagai modal sosial yang menentukan stabilitas dan kemajuan bangsa.
Praktik di Tingkat Daerah
Penguatan moderasi tidak berhenti pada wacana. Sejumlah pemerintah kabupaten bersama kantor Kementerian Agama setempat menggelar kegiatan konkret, mulai dari senam dan jalan sehat lintas agama hingga dialog kerukunan internal maupun antarumat. Pendekatan ini sengaja dirancang agar nilai toleransi tumbuh dari interaksi keseharian warga.
Perayaan keagamaan berbagai komunitas pun kerap menjadi panggung kebersamaan. Di sejumlah daerah, perayaan hari besar satu agama dihadiri dan didukung warga dari keyakinan lain, mencerminkan bahwa keberagaman dijalani sebagai realitas yang mempersatukan, bukan memecah.
"Wasathiyah atau jalan tengah dalam beragama adalah landasan untuk membangun hubungan yang harmonis, baik di tingkat lokal maupun internasional," ungkap salah satu rujukan kebijakan keagamaan nasional.
Meski capaian indeks kerukunan terus membaik, pemerintah menyadari tantangan belum usai. Narasi intoleran di ruang digital, politisasi identitas, serta hambatan administratif terkait rumah ibadah masih menjadi titik rawan yang perlu dikelola dengan hati-hati.
Karena itu, penguatan literasi keagamaan di sekolah dan kampus, pelibatan tokoh agama akar rumput, serta pengarusutamaan nilai moderasi dalam program pemerintah dinilai menjadi kunci. Dengan begitu, kerukunan tidak hanya tercermin dalam angka survei, tetapi benar-benar dirasakan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.