Luwu Utara – Semangat belajar dan komitmen membangun pertanian kakao berkelanjutan terlihat nyata dalam kegiatan Pelatihan Good Agricultural Practices (GAP), Pertanian Organik dan Regeneratif, serta Pembuatan Cokelat Rumahan.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Koperasi Masagena dengan menggunakan anggaran RKO 2026 Program Kakao Kopi Rikolto yang dilaksanakan selama dua hari, yaitu mulai 19 – 20 Agustus 2026 di Aula Kantor Camat Seko, Luwu Utara.
Pelatihan ini difasilitasi berbagai pihak, yaitu Bapperida Luwu Utara, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sulsel, Dinas Pertanian (Distan) Luwu Utara, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Luwu Utara, Pemerintah Kecamatan Seko, serta Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Seko.
Kehadiran mereka dalam kegiatan ini merupakan bentuk dukungan terhadap pengembangan kapasitas petani dan penguatan ekonomi masyarakat di wilayah terpencil tersebut.
Sebanyak 37 peserta yang merupakan perwakilan kelompok tani dan penyuluh pertanian dari enam desa di Seko, yakni Desa Lodang, Padang Balua, Padang Raya, Taloto, Marante, dan Hono, mengikuti pelatihan ini dengan penuh antusias.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber kompeten di bidangnya, yaitu Wakil Dekan Fakultas Pertanian Universitas Andi Djemma Palopo, Dr. Idawati, S.P., M.Si.
Hadir pula praktisi dan pakar kakao, Cacao Doctor, Rusleli, serta tim dari Koperasi Masagena yang telah memiliki pengalaman dalam pengembangan kakao berkelanjutan.
Selama dua hari pelatihan, peserta mendapatkan materi yang komprehensif mengenai praktik budidaya kakao yang baik (GAP), prinsip-prinsip pertanian organik dan regeneratif, serta pengelolaan lahan yang ramah lingkungan, hingga pengolahan hasil kakao menjadi produk bernilai tambah berupa cokelat rumahan.
Tidak hanya membahas aspek teknis budidaya, pelatihan ini juga membuka wawasan peserta mengenai hubungan antara praktik pertanian dengan perubahan iklim.
Salah satu topik yang mendapatkan perhatian besar dari peserta adalah dampak penggunaan pestisida yang berlebihan terhadap kesehatan lingkungan, kesuburan tanah, keanekaragaman hayati, serta keberlanjutan usaha tani dalam jangka panjang.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat karena kami tidak hanya belajar cara meningkatkan produksi kakao, tetapi juga memahami bagaimana menjaga tanah, lingkungan, dan masa depan pertanian kami,” tutur salah seorang peserta pelatihan.
“Selain itu, kami juga belajar mengolah kakao menjadi cokelat, sesuatu yang sebelumnya belum pernah kami lakukan,” sambungnya.
Sebelumnya, Kepala Bapperida yang diwakili Iqbal Cahyadi, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Rikolto dan Koperasi Masagena, atas fasilitasi dari kegiatan ini.
“Semoga kolaborasi dan pendampingan ini terus berlanjut memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan di Kecamatan Seko,” harap Iqbal.
Kegiatan ini, kata dia, memiliki arti yang sangat penting. Bukan hanya karena berbicara tentang teknik budidaya kakao dan pengelolaan lahan, tetapi juga bicara tentang masa depan petani, masa depan lingkungan, dan masa depan pembangunan Luwu Utara.
Yang menarik, kegiatan ini menjadi istimewa karena berlangsung di Seko, salah satu wilayah yang dikenal memiliki tantangan akses transportasi yang cukup besar.
Untuk mencapai wilayah ini, tim dari Pemda Luwu Utara, Koperasi Masagena, dan Rikolto harus menggunakan pesawat perintis Susi Air yang menjadi salah satu moda transportasi utama menuju Seko.
Namun, perjuangan belum berhenti sampai di sana. Pada perjalanan pulang, sebagian tim dari Koperasi Masagena dan Dinas PMD terpaksa menempuh jalur darat menggunakan jasa ojek yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai sebagai “ojek termahal”, akibat keterbatasan tiket penerbangan.
Biaya perjalanan darat menuju dan dari Seko dapat mencapai sekitar Rp700 ribu hingga Rp1,2 juta per orang untuk sekali perjalanan.
Meski harus menghadapi tantangan medan dan aksesibilitas, semangat para peserta maupun para fasilitator tidak surut.
Justru keterbatasan tersebut makin menegaskan pentingnya menghadirkan akses pengetahuan, teknologi, dan inovasi bagi masyarakat di daerah terpencil.
Koperasi Masagena meyakini bahwa peningkatan kapasitas petani merupakan investasi jangka panjang dalam upaya untuk membangun sektor kakao yang lebih produktif, berdaya saing, serta berkelanjutan.
Melalui kolaborasi bersama dengan pemerintah daerah, lembaga pendamping, akademisi, dan masyarakat, diharapkan petani kakao Seko tidak hanya menjadi produsen bahan baku, tetapi juga mampu mengambil peran lebih besar dalam rantai nilai kakao, mulai dari budidaya hingga pengolahan produk yang bernilai ekonomi tinggi.
Pelatihan ini menjadi bukti bahwa jarak dan keterbatasan akses bukan menjadi penghalang bagi semangat belajar dan keinginan masyarakat untuk terus berkembang.
Dari dataran tinggi Seko, harapan untuk masa depan kakao yang lebih lestari dan menyejahterakan terus tumbuh bersama para petani.
“Ketika pengetahuan berhasil menjangkau daerah yang sulit diakses, di situlah perubahan mulai tumbuh.”
Dari Seko, Kita Tanam Pengetahuan. Dari Pengetahuan, Kita Tumbuhkan Inovasi. Dari Inovasi, Kita Bangun Kemandirian, dan dari Kemandirian, Kita Wujudkan Kesejahteraan. (*)
