PAREPARE — Sejumlah sekolah dasar di Kota Parepare mulai menerapkan modul literasi digital sebagai bagian dari upaya membekali siswa menghadapi tantangan dunia digital sejak usia dini. Langkah ini dinilai penting di tengah semakin akrabnya anak-anak dengan gawai dan internet dalam kehidupan sehari-hari.

Modul literasi digital yang diadaptasi sekolah dirancang dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami siswa jenjang sekolah dasar. Materinya tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis menggunakan perangkat, tetapi juga menekankan aspek etika, keamanan, serta cara memilah informasi yang benar di dunia maya.

Para guru menilai pembekalan literasi digital relevan dengan kondisi saat ini, ketika banyak anak lebih tertarik bermain gim daring atau menonton hiburan ketimbang membaca. Dengan pendekatan yang tepat, teknologi diharapkan dapat diarahkan menjadi sarana belajar yang positif, bukan sekadar hiburan.

Bekal Menghadapi Tantangan Digital

Penerapan modul ini diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran maupun program ekstrakurikuler. Siswa diajak mengenal dasar-dasar penggunaan perangkat, memahami pentingnya menjaga data pribadi, hingga belajar bersikap sopan dan bertanggung jawab saat berinteraksi di ruang digital.

"Anak-anak sekarang sudah sangat akrab dengan ponsel dan internet. Tugas kami memastikan mereka tidak hanya bisa menggunakan teknologi, tetapi juga paham etika dan bahayanya. Literasi digital harus ditanamkan sejak bangku sekolah dasar," ujar seorang kepala sekolah dasar di Parepare.

Sejumlah orang tua menyambut baik penerapan modul ini. Mereka berharap pembelajaran literasi digital di sekolah dapat melengkapi pengawasan di rumah, sehingga anak-anak lebih bijak dalam menggunakan gawai dan terhindar dari konten yang tidak sesuai dengan usianya.

Pihak sekolah mengakui penerapan modul ini masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan sarana perangkat hingga perlunya peningkatan kapasitas guru. Karena itu, dukungan dari pemerintah daerah dan pelibatan orang tua dinilai penting agar program berjalan berkelanjutan.

Pentingnya literasi digital tidak lepas dari kondisi indeks literasi digital nasional yang masih perlu ditingkatkan. Penguatan sejak jenjang pendidikan dasar diyakini menjadi fondasi agar anak memiliki bekal menghadapi derasnya arus informasi. Tanpa pemahaman yang memadai, anak rentan terpapar konten negatif, informasi keliru, hingga risiko di dunia maya seperti penipuan dan perundungan daring.

Materi yang diajarkan tidak hanya berhenti pada keterampilan teknis, tetapi juga menekankan kemampuan berpikir kritis. Siswa diajak membedakan informasi yang benar dan keliru, memahami jejak digital, serta menyadari bahwa apa yang mereka unggah dapat berdampak jangka panjang. Beberapa sekolah memadukan pembelajaran ini dengan pengenalan dasar pemrograman sederhana agar anak terbiasa berpikir logis dan terstruktur.

Para guru menilai keberhasilan program ini sangat bergantung pada kesinambungan antara sekolah dan rumah. Pengawasan orang tua terhadap penggunaan gawai di luar jam sekolah dinilai sama pentingnya dengan pembelajaran di kelas. Karena itu, sebagian sekolah berencana melibatkan orang tua melalui kegiatan sosialisasi agar pesan literasi digital konsisten diterima anak, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.

Dengan dimulainya penerapan modul literasi digital di tingkat sekolah dasar, dunia pendidikan Parepare diharapkan lebih siap mencetak generasi yang cakap sekaligus bijak memanfaatkan teknologi. Penguatan literasi sejak dini diyakini menjadi fondasi penting bagi masa depan anak di era digital.