PINRANG, WARTAMADANI.COM — Pembelajaran Mendalam, Kurikulum Berbasis Cinta, dan Artificial Intelligence (AI) tidak ditempatkan sebagai tiga hal yang berdiri sendiri dalam proses pendidikan. Ketiganya justru dipadukan untuk membantu guru merancang pembelajaran yang lebih bermakna, adaptif, dan tetap menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran.

Gagasan tersebut menjadi fokus Workshop Implementasi dan Integrasi Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta Berbantuan Artificial Intelligence (AI) yang digelar di MA Biharul Ulum Ma’arif Pinrang, Sabtu (29/8/2026).

Kegiatan mengusung tema “Transformasi Praktik Pembelajaran melalui Integrasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam.” Workshop merupakan bentuk kerja sama dan kolaborasi mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) dengan MA Biharul Ulum Ma’arif untuk mendukung peningkatan kompetensi profesional guru dan kualitas pembelajaran. 

Ketua panitia dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi ruang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik. Pembelajaran Mendalam diarahkan agar peserta didik mampu memahami, menghubungkan, menerapkan, dan merefleksikan pengetahuan, sementara Kurikulum Berbasis Cinta memperkuat kasih sayang, kepedulian, empati, penghargaan, serta hubungan positif dalam pembelajaran. 

Bukan Sekadar Memahami Konsep

Kepala MA Biharul Ulum Ma’arif Pinrang, Arifuddin, S.Pd., M.Pd., memandang perkembangan pendekatan pembelajaran dan teknologi menuntut guru untuk terus beradaptasi.

Menurutnya, workshop tersebut dilatarbelakangi kebutuhan untuk memberikan pemahaman sekaligus pengalaman praktis kepada guru dalam mengintegrasikan Pembelajaran Mendalam, Kurikulum Berbasis Cinta, dan AI.

Ia berharap guru tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi mampu menerapkannya dalam pembelajaran sehari-hari.

“Kami berharap guru tidak hanya memahami konsepnya, tetapi juga mampu menerapkannya dalam pembelajaran. AI bisa dimanfaatkan untuk membantu guru, sementara nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta dan prinsip Pembelajaran Mendalam tetap menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.”

Hal itu sejalan dengan rancangan workshop yang memberikan ruang bagi peserta untuk langsung mempraktikkan penyusunan modul ajar setelah memperoleh materi dan mengikuti diskusi. 

AI Membantu, Bukan Menggantikan Guru

Pemateri workshop, Dr. Mas’ud Badolo, M.Pd., menekankan posisi AI sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran.

“AI membantu guru dalam menyiapkan bahan ajar, merancang aktivitas pembelajaran, dan menyusun modul ajar. Tetapi AI hanya sebagai alat bantu. Guru tetap menjadi pengarah utama agar pembelajaran tetap mendalam dan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta tetap diterapkan.”

Pemanfaatan AI dalam konteks tersebut tidak sekadar mengejar kemudahan. Guru tetap dituntut menentukan tujuan pembelajaran, menyesuaikan materi dengan kebutuhan peserta didik, serta memastikan teknologi digunakan secara tepat.

Dalam laporan panitia juga disebutkan bahwa AI memberikan peluang untuk membantu guru dalam perencanaan pembelajaran, pengembangan bahan ajar, asesmen, hingga penciptaan aktivitas belajar yang lebih kreatif dan adaptif. 

Karena itu, penguasaan teknologi perlu berjalan bersama pemahaman terhadap pendekatan pembelajaran. AI membantu pekerjaan guru, tetapi arah dan makna pembelajaran tetap ditentukan oleh guru.

Konsep Diterapkan dalam Modul Ajar

Peserta kemudian tidak hanya mengikuti pemaparan materi. Mereka melakukan praktik penyusunan modul ajar yang menjadi bagian penting dari rangkaian workshop.

Setelah praktik, beberapa guru perwakilan mata pelajaran mempresentasikan modul ajar yang telah disusun dan mengumpulkan hasilnya. 

Melalui praktik tersebut, peserta memiliki kesempatan menghubungkan materi workshop dengan kebutuhan pembelajaran. Pembelajaran Mendalam menjadi pendekatan dalam merancang proses belajar, Kurikulum Berbasis Cinta memberi penguatan pada nilai dan relasi dalam pembelajaran, sedangkan AI dimanfaatkan sebagai teknologi pendukung.

Salah seorang peserta mengaku bagian praktik menjadi salah satu pengalaman yang paling bermanfaat karena materi yang diperoleh dapat langsung dicoba.

Menurutnya, pemanfaatan AI memberikan alternatif bagi guru dalam menyiapkan bahan ajar dan modul, tetapi tetap membutuhkan kreativitas dan pertimbangan guru agar sesuai dengan karakter peserta didik.

“Yang paling bermanfaat adalah ketika materi langsung dipraktikkan. Kami bisa mencoba menyusun modul ajar dan melihat bagaimana AI dapat membantu proses tersebut. Setelah ini, saya ingin menerapkannya dalam pembelajaran agar lebih bermakna dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.”

Perguruan Tinggi dan Madrasah Berkolaborasi

Dari pihak Universitas Muhammadiyah Parepare, sambutan Rektor disampaikan oleh Dr. Hj. Heny Setiawati, S.Pd., M.Pd., selaku Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Parepare, yang sekaligus membuka secara resmi kegiatan workshop.

Ia memandang kegiatan tersebut penting sebagai ruang bagi guru untuk memperkuat kemampuan menghadapi perkembangan pembelajaran dan teknologi.

Menurutnya, perubahan teknologi, termasuk AI, perlu diikuti dengan kesiapan guru dalam menggunakannya secara tepat. Teknologi seharusnya memperkuat proses pembelajaran, bukan menghilangkan peran guru.

Ia berharap kolaborasi antara mahasiswa PPG dan madrasah dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran.

“Harapannya, apa yang diperoleh dalam workshop ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini. Guru dapat menerapkannya dalam pembelajaran dan terus mengembangkan kemampuan, sehingga Pembelajaran Mendalam, Kurikulum Berbasis Cinta, dan pemanfaatan AI benar-benar memberi manfaat bagi peserta didik.”

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pretest, penyampaian materi, diskusi dan tanya jawab, praktik penyusunan modul ajar, hingga presentasi hasil modul oleh beberapa guru perwakilan mata pelajaran. 

Rangkaian workshop ditutup dengan pengisian angket kepuasan peserta, penyerahan sertifikat pemateri dan peserta secara simbolis kepada kepala madrasah, pemberian hadiah kepada peserta terbaik, serta sesi foto bersama. 

Pada akhirnya, workshop tersebut menegaskan satu hal: AI dapat membantu guru bekerja lebih efektif, tetapi kualitas pembelajaran tetap bergantung pada bagaimana guru mengarahkan teknologi tersebut untuk menghadirkan pembelajaran yang mendalam dan berlandaskan nilai-nilai cinta. (*)