Lebak — Dua buah kotak sederhana menjadi bagian penting dari pembelajaran anak-anak PAUD Bina Mandiri, Desa Cirinten. Satu untuk sampah organik, satu lagi untuk sampah anorganik. Dari benda yang terlihat sederhana itu, mahasiswa KKN Nusantara mengajak anak-anak mengenal satu hal penting: menjaga lingkungan dimulai dari kebiasaan kecil.
Adalah Amelya Putri Azizah, Delegasi KKN Nusantara dari Program Studi Manajemen Pendidikan Islam UIN Alauddin Makassar, bersama Kelompok 14 KKN Nusantara yang menginisiasi edukasi pemilahan sampah organik dan anorganik di PAUD Bina Mandiri.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi tema ekoteologi yang diusung dalam pelaksanaan KKN Nusantara. Melalui pendekatan edukatif dan praktik langsung, anak-anak diperkenalkan pada pentingnya mengenali jenis sampah dan membuangnya sesuai dengan tempatnya.
Tidak sekadar duduk mendengarkan materi, anak-anak diajak berinteraksi dan belajar melalui benda-benda yang dekat dengan kehidupan mereka. Sebelum kegiatan dimulai, orang tua juga dilibatkan dengan membawa sampah organik maupun anorganik dari rumah untuk digunakan sebagai media pembelajaran.
Di hadapan anak-anak, Amelya dan mahasiswa KKN menjelaskan dengan bahasa sederhana mengenai perbedaan kedua jenis sampah tersebut. Anak-anak kemudian diarahkan untuk mengenali sampah yang mereka bawa dan menentukan apakah sampah tersebut termasuk organik atau anorganik.
Setelah mendapatkan pemahaman awal, anak-anak dibagi ke dalam kelas masing-masing. Mahasiswa KKN yang bertugas sebagai pendamping kemudian mengarahkan mereka untuk mempraktikkan langsung proses pemilahan sampah.
Bagi Amelya, pendidikan lingkungan pada usia dini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar mengenalkan jenis-jenis sampah.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya tahu mana sampah organik dan anorganik, tetapi juga mulai terbiasa menjaga lingkungan melalui hal-hal sederhana yang bisa mereka lakukan setiap hari,” ungkap Amelya.
Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan dapat dilakukan melalui berbagai cara. Ruang belajar tidak selalu harus dipenuhi buku dan papan tulis. Lingkungan sekitar pun dapat menjadi sumber pembelajaran yang efektif, terutama ketika anak-anak diberikan kesempatan untuk melihat, menyentuh, mengenali, dan mempraktikkannya secara langsung.
Sebagai Delegasi KKN Nusantara dari UIN Alauddin Makassar, Amelya melihat kegiatan ini sebagai kesempatan untuk menghubungkan nilai pendidikan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan dalam aktivitas sederhana yang sesuai dengan karakter anak usia dini.
Meski hasil yang dicapai belum dapat dilihat secara instan, edukasi tersebut diharapkan menjadi titik awal tumbuhnya kesadaran lingkungan pada anak-anak PAUD Bina Mandiri.
Sebab, perubahan besar tidak selalu lahir dari program yang besar. Kadang, perubahan dimulai dari seorang anak yang belajar membedakan sampah, lalu memilih membuangnya ke tempat yang benar. (*)
