Sang waktu melangkah begitu cepat, membawa kenangan yang berakar jauh ke tahun 2005. Dua dekade lebih telah berlalu sejak pertama kali takdir mempertemukan saya dengan seorang figur berintelektual tinggi, Pak Arief R. Palallo.
Saat itu, saya hanyalah staf PNS muda di Bagian Humas dan Protokol, sementara beliau telah lebih dahulu menorehkan namanya di Bappeda bersama dua rekannya yang acapkali disebut memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Selain beliau, dua nama yang saya maksud adalah Muchtar Jaya dan Taufiq Gurrahman (kini berkarier di Palopo).
Namun, sejarah akhirnya membuktikan keistimewaan jalurnya sendiri. Beliau menjelma menjadi salah satu pejabat terbaik yang tulus mewakafkan pikiran, tenaga, dan hatinya demi kemajuan teknologi, komunikasi, dan informasi di Luwu Utara. Sebuah perjalanan paripurna yang hari ini, Rabu, 1 Oktober 2026, menghantarkannya memasuki gerbang purna bakti.
Hubungan kami bukan sekadar relasi antara atasan dan bawahan, melainkan sebuah simponi kolaborasi yang terjalin dalam sunyi maupun riuhnya tugas-tugas pelayanan publik. Ketika saya kembali dipercaya menjadi kemudi dari kerja-kerja kehumasan pada Januari 2017, setelah 5 tahun "berkelana" di dunia pertanian, di situlah takdir merajut kedekatan kami dengan lebih intens.
Suara dering telepon dari ruangannya atau panggilan hangat untuk menghadap kerap menjadi penanda dimulainya diskusi-diskusi panjang. “Kawan, bantu ka dulu.” Begitu ia memulai diskusi panjang kami. Bagi Pak Arief, pemberitaan bukan sekadar deretan kata di atas kertas, tetapi juga sebaagai denyut nadi yang harus dirasakan masyarakat paling bawah agar mereka tahu apa yang sedang diperjuangkan pemerintahnya.
Dari bilik-bilik diskusi itulah saya belajar memandang arti krusial dari sebuah lompatan berpikir, utamanya bagaimana membangun citra positif dan reputasi pemerintah daerah melalui formulasi pemberitaan yang mengedepankan akurasi informasi yang mencerahkan masyarakat. Ternyata, beliau tidak hanya memberi perintah, tetapi juga menyalakan api kepercayaan.
Belum hilang dari ingatan saat beliau mempercayakan saya yang baru beberapa bulan kembali ke Humas untuk berdiri sebagai narasumber di hadapan para Admin Website Perangkat Daerah pada 2017. Baginya, keberhasilan lahir dari keyakinan bahwa kita tidak bisa berjalan sendirian, tetapi butuh kerja sama dan saling membantu. Intinya, sinergi adalah harga mati.
Saking intensnya frekuensi pemikiran kami, rasanya saya seperti telah bersenyawa dengan Dinas Kominfo jauh sebelum berpindah dari Bagian Humas dan Protokol. Amanah terus berdatangan, mulai dari melatih para sekretaris perangkat daerah dalam Forum PPID, hingga berdiri pada garis terdepan memimpin forum diskusi tematik Dinas Kominfo se-Tana Luwu pada tahun 2021.
Di tengah hantaman badai pandemi Covid-19 yang melumpuhkan semesta, di sela-sela perayaan Hari Jadi Luwu dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HJL/HPRL) yang dilaksanakan secara daring, ia tetap menaruh kepercayaan penuh di pundak saya untuk memimpin jalannya diskusi tematik tersebut.
Barangkali doa-doa tulus yang sering beliau selipkan dalam percakapan kami akhirnya diijabah oleh semesta. Pimpinan daerah memberikan amanah baru kepada saya untuk berlabuh di jabatan fungsional Pranata Humas, tepat di bawah naungan instansi yang beliau pimpin, Dinas Kominfo.
Akhirnya, kami berada dalam satu perahu yang sama. Di sanalah babak paling berkesan dimulai. Selama satu tahun enam bulan membersamai kepemimpinan beliau, saya tidak hanya mendesain wajah pemberitaan daerah, tetapi juga memikul tanggung jawab besar mengelola kanal aduan SP4N LAPOR! serta melakukan pendampingan mahasiswa yang melalukan kegiatan KKN.
Waktu memang terasa sangat singkat dengan beliau, tetapi sarat akan sari-sari kebijaksanaan dari seorang suhu yang tak pelit berbagi ilmu. Bahkan ketika langkah ia beralih menakhodai BKPSDM, tali silaturahmi di antara kami tak pernah lekang oleh ruang dan jarak.
Hingga di pengujung garis pengabdiannya sebagai ASN, di saat ia tengah merangkum tulisannya mengenai pengabdiannya yang melewati empat era kepemimpinan kepala daerah, yaitu Luthfi A. Mutty, Arifin Junaidi, Indah Putri Indriani, dan Andi Abdullah Rahim, beliau masih menyempatkan merangkul saya untuk merampungkannya secara bersama.
“Kawan, bantu ka dulu.” Frasa ini menjadi sapaan pengantar saat beliau membangun komunikasi dengan saya, dan sapaan itu seperti sebuah intro musik yang merdu alias easy listening, sehingga saya tak bisa menolak karena ada kemerduan kerja sama yang mesti kami bangun bersama.
Hari ini, Pak Arief R. Palallo menanggalkan seragam dinasnya, menuntaskan tugas negara dengan kepala tegak dan penuh dengan senyum kebanggaan. Namun, pengabdian sesungguhnya tidak pernah mengenal kata pensiun. Selamat memasuki masa purna bakti, Pak Arief R. Palallo.
Raga boleh beristirahat dari aktivitas kedinasan, tetapi jejak pikiran, dedikasi, serta keteladanan yang bapak tinggalkan akan terus hidup merawat bumi Luwu Utara. Terima kasih telah menjadi suhu, guru, sekaligus sahabat. Sinergi ini akan terus bernyawa, di manapun ladang pengabdian selanjutnya memanggil kita. Maafkan salah dan khilafku sekira itu pernah terjadi. (LHr)
