PINRANG, WARTAMADANI.COM — Kepala MA Biharul Ulum Ma’arif Pinrang, Arifuddin, S.Pd., M.Pd., mendorong guru tidak sekadar mengikuti perkembangan Artificial Intelligence (AI), tetapi mampu memanfaatkannya secara tepat untuk memperkuat pembelajaran.
Pandangan tersebut disampaikan Arifuddin dalam Workshop Implementasi dan Integrasi Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta Berbantuan Artificial Intelligence (AI) yang digelar di MA Biharul Ulum Ma’arif Pinrang, Sabtu (29/8/2026).
Menurut Arifuddin, perkembangan AI menjadi tantangan bagi guru untuk terus belajar dan beradaptasi. Kemampuan menggunakan teknologi perlu diikuti pemahaman mengenai cara dan tujuan pemanfaatannya dalam pembelajaran.
“Tantangannya adalah guru harus terus belajar dan beradaptasi. Jangan sampai perkembangan AI justru membuat guru tertinggal. Guru perlu memahami bagaimana menggunakan AI dengan tepat, bukan sekadar bisa menggunakannya,” ujarnya.
AI sebagai Alat Bantu Guru
Arifuddin mengatakan MA Biharul Ulum Ma’arif terbuka terhadap perkembangan AI dan mendorong guru memanfaatkannya. Namun, penggunaannya tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan arah pembelajaran.
“Madrasah tentu terbuka terhadap perkembangan AI dan mendorong guru untuk memanfaatkannya. Tetapi AI tetap sebagai alat bantu. Guru tetap harus mengontrol penggunaannya dan memastikan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik serta tetap berlandaskan Kurikulum Berbasis Cinta,” katanya.
Prinsip tersebut menjadi relevan dengan tema workshop, “Transformasi Praktik Pembelajaran melalui Integrasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam.” Kegiatan ini merupakan kolaborasi mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) dengan MA Biharul Ulum Ma’arif untuk mendukung peningkatan kompetensi profesional guru dan kualitas pembelajaran.
Bagi Arifuddin, penggunaan AI tidak cukup dilihat dari kemampuan menghasilkan bahan atau perangkat pembelajaran. Guru tetap harus menentukan tujuan, menyesuaikan materi, dan memastikan proses belajar memberi pengalaman yang bermakna.
“Kita ingin guru tidak hanya menggunakan AI karena teknologinya tersedia, tetapi memahami untuk apa teknologi itu digunakan. Pembelajaran tetap harus mendalam dan nilai-nilai cinta kepada peserta didik tetap hadir.”
Pemanfaatan tersebut kemudian diperkuat melalui praktik penyusunan modul ajar dalam workshop. Peserta diberi kesempatan menerapkan materi yang diperoleh sebelum mempresentasikan hasil modul yang disusun.
Dari Workshop ke Pembelajaran di Kelas
Bagi Arifuddin, praktik menjadi penting agar pengetahuan yang diperoleh guru tidak berhenti pada pemahaman konsep. Hasilnya diharapkan dapat dikembangkan menjadi bagian dari perencanaan pembelajaran di kelas.
“Harapannya setelah workshop ini guru tidak berhenti pada materi. Apa yang dipelajari bisa diterapkan dalam modul ajar dan kemudian dibawa ke kelas.”
Harapan tersebut sekaligus menjadi arah tindak lanjut madrasah. Guru diharapkan terus mengembangkan kemampuan menggunakan teknologi sambil mempertahankan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Arifuddin berharap perubahan tersebut pada akhirnya tidak hanya terlihat dari kemampuan guru menggunakan teknologi, tetapi juga dari pengalaman belajar yang diterima peserta didik.
“Kami berharap guru semakin percaya diri dalam memanfaatkan teknologi dan mampu merancang pembelajaran yang lebih mendalam dan bermakna. Bagi peserta didik, harapannya mereka tidak hanya menerima materi, tetapi lebih aktif memahami, menghubungkan, menerapkan, dan merefleksikan apa yang dipelajari.”
Bagi MA Biharul Ulum Ma’arif, perkembangan AI dengan demikian tidak dipandang sebagai alasan untuk mengurangi peran guru. Sebaliknya, teknologi menjadi peluang untuk membantu guru bekerja lebih efektif, sementara Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta tetap menjadi pijakan dalam merancang pengalaman belajar peserta didik.
AI membantu pekerjaan guru, tetapi guru tetap menentukan arah pembelajaran.
