PINRANG, WartaMadani — Peran orang tua, khususnya ibu, menjadi pesan utama Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pinrang H. Muhammad Idris Usman saat menyampaikan hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW di Yayasan Darussalam Pinrang, Ahad (4/10/2026).

Di hadapan jamaah, H. Muhammad Idris Usman mengajak para orang tua menyadari besarnya peran mereka dalam membentuk karakter dan masa depan anak. Ia menekankan bahwa keluarga menjadi lingkungan pendidikan pertama yang sangat menentukan perkembangan anak.

“Ibu-ibu adalah guru sekaligus menjadi sekolah paling awal bagi anak-anaknya,” ungkapnya.

Pesan tersebut disampaikan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Yayasan Darussalam Pinrang dengan tema “Meneladani Sirah Nabi, Membangun Generasi Qur’ani” di Aula Darussalam, Kompleks SD Tahfidzul Qur’an Darussalam.

Keteladanan Orang Tua Dimulai Sejak Anak Usia Dini

Menurut H. Muhammad Idris Usman, usia 0 hingga 7 tahun merupakan masa keemasan atau golden age dalam proses pembentukan jati diri anak. Pada fase tersebut, orang tua memiliki peran penting dalam menanamkan nilai agama, akhlak, adab, kasih sayang, dan keteladanan.

Ia menegaskan, Rasulullah SAW telah memberikan teladan dalam menghadirkan generasi Qur’ani, yakni generasi yang taat kepada Allah SWT, patuh kepada orang tua, serta memiliki adab yang baik dalam pergaulan.

Dalam hikmahnya, H. Muhammad Idris Usman juga menyampaikan empat bagian tubuh anak yang dapat menjadi media bagi orang tua dalam menanamkan nilai dan kasih sayang.

Pertama, ubun-ubun yang dimaknai sebagai simbol harapan agar anak kelak menjadi seorang pemimpin. Karena itu, orang tua dianjurkan memperbanyak doa untuk kebaikan dan kesalehan anak, salah satunya dengan memanjatkan doa, “Rabbi hab li minash-shalihin.”

Kedua, kening yang dianjurkan sering dicium oleh orang tua sebagai bentuk penghormatan, kedekatan, dan kasih sayang kepada anak.

Ketiga, pipi kanan dan kiri sebagai wujud kelembutan dan cinta orang tua. Keempat, punggung tangan yang mengandung pesan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati atau tawadhu.

“Keempat hikmah ini menjadi pelajaran bagi kita sebagai orang tua untuk bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya.

Ia menekankan, membangun generasi Qur’ani tidak cukup hanya dengan mengajarkan anak membaca Al-Qur’an. Nilai tersebut juga harus diwujudkan melalui keteladanan orang tua dalam kehidupan sehari-hari.

Anak, lanjutnya, belajar dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan dalam lingkungan keluarganya. Karena itu, perilaku dan keteladanan orang tua menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter anak.

Peringatan Maulid Nabi di Yayasan Darussalam Pinrang menjadi momentum untuk kembali meneguhkan komitmen bersama dalam mendidik generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat iman, mulia akhlaknya, santun dalam pergaulan, serta memiliki kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Kegiatan tersebut dihadiri keluarga besar Yayasan Darussalam dan Majelis Cinta Darussalam, serta sejumlah tamu undangan, di antaranya Komandan Kodim 1404 Pinrang, Kasi Bimas Islam Kemenag Pinrang, Penzawa Kemenag Pinrang, dan pejabat fungsional lingkup Kemenag Pinrang.

Ketua Yayasan Darussalam Pinrang, Muhammad Farid, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran seluruh jamaah Majelis Cinta Darussalam serta para tamu undangan yang telah meluangkan waktu menghadiri peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Melalui keteladanan Nabi Muhammad SAW dan peran aktif keluarga, khususnya ibu sebagai madrasah pertama, diharapkan lahir generasi Qur’ani yang berakhlak mulia serta mampu membawa kemaslahatan bagi agama, bangsa, dan masyarakat. (*)