Luwu Utara — Di tengah gempuran teknologi yang serba cepat dan mobilitas global yang kian masif, kemampuan adaptasi di tengah keberagaman menjadi keterampilan sosial paling krusial.
Pesan ini disampaikan Sekretaris Komisi Kehumasan dan Informatika Kwarcab Gerakan Pramuka Luwu Utara, Lukman Hamarong, saat memaparkan materi di hadapan ratusan anggota Pramuka dari berbagai gugus depan.
Kehadiran ratusan anggota Pramuka tersebut dalam rangka mengikuti ajang Jamboree on the Air-Jamboree on the Internet (JOTA-JOTI) 2026 di Lapangan Tamsis Masamba, pada Sabtu 17 Oktober 2026, di Lapangan Tamsis Masamba.
Sesi materi yang dibawakan Lukman sukses menyedot perhatian peserta lewat topik yang sangat relevan dengan generasi digital, yaitu "Tantangan Komunikasi dan Dialog: Menghargai Perbedaan, Mendengarkan Pendapat, dan Membangun Pemahaman Lintas Budaya."
Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa setiap hari manusia berinteraksi dengan individu dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda. Oleh karena itu, sikap toleransi dan kolaborasi mutlak diperlukan agar tidak terjadi perpecahan.
“Sikap menghargai perbedaan harus dimulai dari kesadaran diri bahwa cara hidup atau sudut pandang kita bukanlah satu-satunya cara yang benar di dunia ini,” tegas mantan Pranata Humas Diskominfo-SP ini.
Pernyataan ini memberikan sudut pandang reflektif bagi para anggota Pramuka agar senantiasa berjiwa besar, inklusif, dan terbuka dalam menerima dinamika sosial di era modern.
Selain isu keberagaman budaya, ia juga menyoroti satu faktor krusial yang sering diabaikan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu seni mendengarkan pendapat.
Menurutnya, akar dari banyak konflik antarkelompok bukanlah perbedaan pendapat itu sendiri, melainkan kegagalan manusia dalam menyimak atau mendengarkan satu sama lain.
Untuk menghindari perselisihan dan pertikaian, ia membagikan langkah-langkah praktis menjadi pendengar yang baik, yaitu tetap fokus dan memberikan perhatian yang penuh kepada orang yang sedang berbicara dan hindari terdistraksi oleh gawai (gadget).
“Dengarkan seluruh poin pembicaraan lawan bicara kita hingga selesai tanpa memotong atau langsung menghakimi saat menemukan perbedaan gagasan. Jika ada hal yang kurang jelas, ajukan pertanyaan secara sopan tanpa menggunakan nada menyudutkan,” tegasnya.
Topik bahasan penutup yang tak kalah menarik adalah saat membahas pentingnya membangun pemahaman lintas budaya. Ia menjelaskan, komunikasi lintas budaya terjadi tatkala dua individu atau lebih dari latar belakang kebudayaan berbeda yang saling berinteraksi.
Dalam praktiknya, hambatan terbesar dari jenis komunikasi ini biasanya bersumber dari tiga hal, yaitu miskomunikasi bahasa, bahasa tubuh, serta pemahaman norma-norma lokal.
“Di sinilah peran Pramuka sebagai agen perubahan diuji untuk menjembatani perbedaan tersebut melalui sebuah upaya dialog yang konstruktif atau membangun yang diaksanakan penuh empati.
“Perbedaan pendapat adalah keniscayaan yang memperkaya khazanah pemikiran kita. Dengan menghargai perbedaan, aktif mendengar, dan terbuka terhadap pemahaman lintas budaya, maka kita tak hanya menciptakan lingkungan harmonis, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih bijak, dan beradab,” pungkasnya.
Melalui JOTA-JOTI ini, Kwarcab Luwu Utara berharap para anggotanya tidak hanya cakap dalam memanfaatkan teknologi komunikasi digital, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan sosial yang kuat untuk merajut persatuan bangsa di kancah lokal maupun global. (LHr)
