Indonesia kembali memperkuat diplomasi budaya dengan mengajukan tiga nominasi baru ke Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada 2026. Ketiga elemen tersebut adalah budaya tempe, kesenian jaranan, dan teater Mak Yong.

Dari Pangan hingga Seni Pertunjukan

Bila ketiganya disahkan, total warisan budaya Indonesia yang diakui UNESCO akan bertambah menjadi 19 elemen. Pengajuan ini menegaskan bahwa yang dibawa ke panggung dunia bukan sekadar benda atau simbol, melainkan pengetahuan, praktik, dan tradisi hidup yang masih dijalankan lintas generasi.

Tempe, misalnya, bukan hanya makanan fermentasi kedelai yang murah dan bergizi, tetapi juga representasi pengetahuan kuliner dan ketahanan pangan masyarakat. Pemerintah bahkan menggelar festival khusus bertema warisan hidup tempe di Jakarta untuk memperkuat narasi pengajuan tersebut.

"Diplomasi budaya adalah cara kita memperkuat identitas bangsa sekaligus posisi Indonesia di panggung global," demikian semangat yang diusung dalam Indonesian Cultural Outlook 2026.

Di tingkat nasional, pencatatan warisan budaya tak benda juga melaju pesat. Hingga akhir 2024 tercatat 2.213 warisan, lalu melonjak menjadi 2.727 setelah penetapan 514 warisan baru pada 2025. Angka ini mencerminkan kekayaan budaya Nusantara yang luar biasa beragam.

Sejumlah pegiat budaya berharap pengakuan internasional tidak berhenti pada sertifikat, melainkan diikuti pelestarian nyata. Regenerasi pelaku seni, dukungan ekonomi bagi komunitas, serta integrasi warisan ke dalam pendidikan dinilai menjadi kunci agar tradisi tersebut tetap hidup, bukan sekadar tercatat dalam dokumen.