PINRANG, WARTAMADANI.COM — Perubahan kebijakan dan perkembangan teknologi pendidikan menuntut guru untuk terus belajar dan beradaptasi. Pelatihan menjadi salah satu bekal penting agar kompetensi guru terus berkembang dan mampu mengikuti dinamika pendidikan.
Pesan tersebut disampaikan Dr. Hj. Heny Setiawati, S.Pd., M.Pd., Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Parepare, yang hadir mewakili Rektor UMPAR, dalam Workshop Implementasi dan Integrasi Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta Berbantuan Artificial Intelligence (AI) di MA Biharul Ulum Ma’arif Pinrang, Sabtu (29/8/2026).
Heny menilai kegiatan tersebut penting bagi kedua pihak, terutama bagi madrasah sebagai ruang penguatan kompetensi guru.
“Kegiatan ini sangat penting, tentunya untuk kedua belah pihak. Jadi untuk sekolah, ini merupakan bekal penting buat peningkatan kompetensi para guru,” ujar Heny dalam wawancara.
Menurutnya, guru tidak bisa berhenti belajar karena kebijakan pendidikan dan perkembangan teknologi terus mengalami perubahan. Kondisi tersebut membuat kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dari profesionalisme guru.
“Secara kebijakan maupun teknologi juga selalu berubah. Sehingga sebagai guru yang adaptif itu harus selalu bisa menyesuaikan diri dengan mengikuti berbagai pelatihan,” katanya.
Guru Profesional Harus Terus Belajar
Bagi Heny, profesionalisme guru tidak hanya diwujudkan melalui pelaksanaan tugas mengajar. Guru juga perlu terus mengkaji ilmu dan mengikuti pelatihan sebagai bagian dari pengembangan diri.
Ia berharap peningkatan kompetensi tersebut tidak berhenti pada guru, tetapi memberikan dampak nyata terhadap peserta didik.
“Harapan untuk para guru, untuk menjadi guru profesional itu tetap harus menjalankan semua kewajibannya, baik dalam hal mengajar, juga dalam hal mengkaji ilmu, terus-menerus juga terus melakukan pelatihan-pelatihan untuk pengembangan diri sehingga berdampak kepada siswanya atau muridnya nanti,” tuturnya.
Menurut Heny, guru yang terus mengembangkan diri akan lebih siap memberikan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan zaman.
“Mereka juga mendapatkan ilmu yang seharusnya mereka peroleh sesuai dengan jenjangnya dan perkembangan waktu,” lanjutnya.
Pesan tersebut sejalan dengan tema workshop yang mengintegrasikan Pembelajaran Mendalam, Kurikulum Berbasis Cinta, dan Artificial Intelligence. Perkembangan pendekatan maupun teknologi pembelajaran menuntut guru tidak hanya memahami perubahan, tetapi juga mampu menyesuaikannya dengan praktik di kelas.
Sosialisasi dan Pendampingan Perlu Berkelanjutan
Heny juga menekankan pentingnya sosialisasi dan pendampingan kepada sekolah atau madrasah agar guru dapat mengikuti perkembangan kebijakan pendidikan.
Dalam kegiatan tersebut, Heny hadir bersama Dr. Hj. Marwati Abdul Malik, Nurhasanah selaku Ketua LPP UMPAR, serta Hj. Salasia, yang merupakan lulusan S2 Australia dan mantan Ketua Program Studi S2 Jurusan Biologi. Kehadiran mereka berkaitan dengan kegiatan pengabdian.
“Sekarang kami ini bergabung untuk pengabdian. Bagaimana sekolah-sekolah terus mensosialisasikan dan mendampingi guru-guru sehingga mereka mengikuti kebijakan-kebijakan terbaru,” jelasnya.
Bagi Heny, pendampingan diperlukan agar guru tidak hanya mengetahui adanya perubahan kebijakan, tetapi juga memahami dan mampu menerapkannya dalam proses pembelajaran.
Karena itu, pelatihan dan pengembangan diri perlu dilakukan secara berkelanjutan. Guru dituntut terus memperbarui pengetahuan, terbuka terhadap perkembangan teknologi, serta menyesuaikan praktik pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik.
Pada akhirnya, menurut Heny, peningkatan kompetensi guru bukan hanya untuk kepentingan profesional pendidik. Lebih jauh, proses tersebut diharapkan memastikan peserta didik memperoleh ilmu dan pengalaman belajar yang sesuai dengan jenjang pendidikan serta perkembangan zaman.
