Pasar energi dunia kembali bergejolak pada pertengahan Juni 2026, dipicu memudarnya harapan akan gencatan senjata berkelanjutan antara Amerika Serikat dan Iran. Pada perdagangan Jumat, 19 Juni 2026, minyak mentah Brent menguat 0,64 persen ke level sekitar 80,36 dolar AS per barel, sementara minyak jenis WTI untuk kontrak Juli naik 1,7 persen menjadi sekitar 77,88 dolar AS per barel.

Lonjakan ini terjadi setelah perundingan damai yang dijadwalkan berlangsung di Swiss dibatalkan. Ketidakpastian semakin tinggi seiring eskalasi militer di kawasan, termasuk meningkatnya serangan Israel di Lebanon. Pasar yang sebelumnya berharap pada deeskalasi kini kembali menghadapi risiko gangguan pasokan yang nyata.

Teluk Persia Jadi Titik Krisis

Inti dari kekhawatiran pasar terletak pada Teluk Persia. Sejak konflik meletus, Iran secara efektif membatasi sebagian besar aktivitas pelayaran non-Iran yang keluar-masuk kawasan tersebut. Padahal, jalur ini menjadi urat nadi bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Gangguan pada arus pelayaran ini langsung berdampak pada harga energi global.

Selama ketidakpastian geopolitik di Teluk Persia belum mereda, volatilitas harga minyak akan menjadi keniscayaan. Pasar bereaksi terhadap setiap sinyal, baik itu ancaman serangan maupun kabar perundingan.

Sejumlah produsen berupaya meredam dampaknya. Kuwait Petroleum Corporation mengumumkan telah menarik seluruh pemberitahuan force majeure, sementara Menteri Perminyakan Irak menyatakan ladang-ladang minyak negaranya siap kembali beroperasi dan produksinya akan dipulihkan secara bertahap ke level sebelum konflik. Langkah ini diharapkan dapat menambah pasokan dan menstabilkan harga.

Gejolak ini berlangsung di tengah lanskap geopolitik global yang sudah penuh ketegangan. Konfrontasi geoekonomi, mulai dari kebijakan tarif hingga pembatasan ekspor teknologi, telah disebut sebagai salah satu risiko global paling mengkhawatirkan tahun ini. Rivalitas strategis antara Amerika Serikat dan China turut membentuk peta ekonomi dunia, menjalar ke sektor semikonduktor, kecerdasan buatan, hingga mineral kritis.

Di tengah tekanan tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia hanya mencapai 2,7 persen pada 2026, melambat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kombinasi konflik energi dan fragmentasi perdagangan membuat prospek pemulihan global tetap rapuh, dengan harga minyak sebagai salah satu indikator paling sensitif terhadap setiap perubahan situasi di Timur Tengah.