Gunung Lewotobi Laki-Laki yang berada di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik sepanjang Juni 2026. Erupsi yang berlangsung berulang kali memunculkan kolom abu dengan ketinggian bervariasi, dari ratusan hingga sekitar 1.500 meter di atas puncak.
Rangkaian erupsi terpantau kembali intensif mulai awal Juni. Pada salah satu hari, tercatat hingga delapan kali letusan dalam rentang waktu singkat. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menempatkan gunung api tersebut pada Level III atau status Siaga, setelah sebelumnya dinaikkan dari Level II pada Mei 2026.
Status Tanggap Darurat Diperpanjang
Menanggapi aktivitas vulkanik yang masih tinggi, pemerintah daerah memperpanjang masa tanggap darurat erupsi hingga akhir Juni 2026. Langkah ini diambil untuk memastikan penanganan pengungsi, distribusi logistik, dan koordinasi antarlembaga berjalan tanpa terputus.
Ribuan jiwa dilaporkan terdampak oleh aktivitas gunung ini. Sebagian warga di desa-desa terdekat memilih atau diarahkan untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman, mengingat ancaman lontaran material vulkanik, hujan abu, dan potensi aliran lahar saat hujan turun.
"Warga maupun wisatawan dilarang melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi. Kami mengimbau seluruh masyarakat tetap tenang namun waspada dan mengikuti arahan petugas di lapangan," demikian penegasan dari otoritas kebencanaan setempat.
Dampak bagi Warga dan Mitigasi
Hujan abu yang menyelimuti permukiman menimbulkan gangguan pernapasan serta mengganggu aktivitas pertanian warga. Petugas membagikan masker dan menyiapkan posko kesehatan, sementara jalur penerbangan di sekitar kawasan dipantau ketat untuk mengantisipasi sebaran abu vulkanik.
Para petugas pos pengamatan gunung api terus memantau perkembangan secara visual maupun instrumental selama 24 jam. Data kegempaan dan deformasi tubuh gunung menjadi acuan utama dalam menilai potensi erupsi susulan yang lebih besar.
Bagi masyarakat Flores Timur, erupsi Lewotobi Laki-Laki bukanlah peristiwa baru. Gunung ini tercatat beberapa kali mengalami letusan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk erupsi besar yang sempat memaksa belasan ribu warga mengungsi. Pengalaman tersebut mendorong pemerintah daerah memperkuat sistem peringatan dini serta kesiapan logistik agar masyarakat dapat merespons cepat setiap kali aktivitas vulkanik meningkat.