Perekonomian Provinsi Kalimantan Timur diproyeksikan terus menguat sepanjang tahun 2026, dengan estimasi pertumbuhan berada di kisaran 4,5 hingga 5,3 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang oleh sejumlah faktor, terutama kelanjutan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) serta menguatnya sektor industri pengolahan dan konstruksi.

Pembangunan IKN pada tahun ini dipastikan menyerap anggaran sekitar Rp6 triliun yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Fokus pembangunan diarahkan pada pengembangan ekosistem lembaga legislatif dan yudikatif, dengan kebutuhan anggaran yang diperkirakan naik sekitar 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Konstruksi dan Migas Jadi Motor Utama

Sektor konstruksi diprediksi menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan, seiring berlanjutnya proyek-proyek strategis di kawasan IKN. Aktivitas pembangunan ini turut menggerakkan rantai pasok material, jasa, dan tenaga kerja di sekitar wilayah Kalimantan Timur.

Di sisi lain, sektor migas dan industri pengolahan juga memberi kontribusi signifikan. Produksi kilang diperkirakan bertambah hingga 50 ribu barel per hari pada triwulan ketiga 2026, didukung hasil eksplorasi sumur gas yang telah dimulai sejak akhir tahun lalu. Ekspansi kapasitas kilang ini dinilai memperkuat fondasi ekonomi daerah.

"Pertumbuhan ekonomi Kaltim ke depan tidak bisa lagi hanya bergantung pada tambang. Transformasi menuju industri yang berkelanjutan adalah keniscayaan," demikian pandangan yang mengemuka dalam berbagai diskusi ekonomi daerah.

Tantangan Transformasi Ekonomi

Meski proyeksi pertumbuhan tergolong positif, sejumlah analis mengingatkan adanya potensi pelandaian seiring proses normalisasi belanja proyek IKN yang mulai memasuki tahap lebih matang. Ketergantungan yang tinggi terhadap satu sumber pertumbuhan dinilai berisiko bila tidak diimbangi diversifikasi.

Karena itu, muncul dorongan agar Kalimantan Timur secara bertahap mengurangi ketergantungan pada sektor pertambangan dan beralih ke industri yang lebih berkelanjutan. Pengembangan sektor pengolahan bernilai tambah, ekonomi hijau, serta penguatan sumber daya manusia lokal dipandang sebagai kunci agar pertumbuhan tidak hanya tinggi, tetapi juga berkualitas dan merata.

Sebagai bagian dari penguatan tata kelola pembangunan, wilayah Kalimantan juga tengah menyiapkan pelaksanaan sensus ekonomi pada 2026. Data yang akurat dari sensus tersebut diharapkan menjadi pijakan bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran ke depannya.