PAREPARE — Aktivitas logistik di Pelabuhan Nusantara Parepare mencatat lonjakan arus barang yang dinilai tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai salah satu simpul distribusi utama di Kawasan Timur Indonesia, pelabuhan yang berada di tepi Selat Makassar ini menjadi pintu masuk dan keluar beragam komoditas, mulai dari hasil pertanian, bahan bangunan, hingga produk industri yang dikirim antarpulau.

Pengelola pelabuhan menyebut pertumbuhan volume bongkar muat terjadi seiring meningkatnya permintaan distribusi barang dari dan menuju wilayah Ajatappareng serta kabupaten sekitar. Pergerakan barang yang padat ini di satu sisi menandai geliat ekonomi yang positif, namun di sisi lain memunculkan persoalan klasik berupa antrean truk dan keterbatasan ruang penyimpanan di kawasan dermaga.

Kondisi tersebut membuat waktu tunggu kendaraan pengangkut barang kerap memanjang, terutama pada jam-jam sibuk. Sejumlah pelaku usaha angkutan mengeluhkan penjadwalan bongkar muat yang belum sepenuhnya efisien, sehingga rantai distribusi melambat dan biaya operasional ikut membengkak.

Kawasan Pergudangan Baru Disiapkan

Menjawab persoalan itu, Pemerintah Kota Parepare bersama otoritas pelabuhan menyiapkan rencana pengembangan kawasan pergudangan terintegrasi di sekitar area pelabuhan. Konsep yang digodok mencakup penataan gudang niaga, gudang material, hingga ruang penyimpanan beras dan pupuk dalam satu klaster, agar arus barang lebih tertib dan terukur.

Dengan penataan tersebut, truk diharapkan tidak lagi menumpuk di area dermaga karena sebagian aktivitas penyimpanan dan distribusi dipindahkan ke kawasan pergudangan. Langkah ini juga dinilai dapat mendukung program penataan wilayah pesisir kota yang tengah dirancang pemerintah daerah.

"Lonjakan arus barang ini kabar baik bagi ekonomi Parepare, tetapi harus dibarengi infrastruktur pendukung. Kawasan pergudangan baru akan kami siapkan agar distribusi lebih lancar dan biaya logistik bisa ditekan," ujar Kepala Dinas Perhubungan Kota Parepare dalam keterangannya kepada wartawan.

Pelaku usaha menyambut baik rencana tersebut. Mereka berharap pembangunan kawasan pergudangan tidak hanya menyelesaikan persoalan antrean, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar pelabuhan, mulai dari tenaga bongkar muat hingga jasa pergudangan.

Pemerintah kota menargetkan kajian teknis dan penataan lahan rampung dalam waktu dekat sebelum masuk tahap pembangunan fisik. Otoritas pelabuhan menegaskan bahwa selama proses penataan berlangsung, pelayanan bongkar muat tetap dijalankan dengan menjaga kelancaran arus kendaraan, kebersihan kawasan, serta keselamatan pekerja di dermaga.

Selain soal kapasitas, sejumlah pihak menilai persoalan utama logistik di Parepare terletak pada penjadwalan bongkar muat yang belum sepenuhnya terintegrasi. Tumpang tindih waktu kedatangan kapal dan keterbatasan alat angkat di dermaga kerap membuat barang menumpuk pada periode tertentu, sementara pada waktu lain fasilitas justru menganggur. Digitalisasi sistem antrean truk dan penjadwalan sandar kapal disebut menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan untuk mengurai persoalan tersebut.

Sebagai kota yang berada di jalur pelayaran strategis menuju kawasan timur Indonesia, Parepare memang menyandang peran penting dalam rantai pasok regional. Komoditas seperti beras dari sentra pertanian Ajatappareng, hasil perikanan, semen, hingga barang kebutuhan harian melintas melalui pelabuhan ini sebelum didistribusikan ke berbagai daerah. Karena itu, gangguan kecil pada arus barang di dermaga bisa berdampak luas pada ketersediaan dan harga barang di pasar.

Kalangan akademisi yang menyoroti tata kelola logistik di Parepare menilai pengembangan kawasan pergudangan perlu disertai perencanaan akses jalan yang memadai. Tanpa dukungan jaringan jalan yang lancar, pemindahan aktivitas penyimpanan ke kawasan baru dikhawatirkan hanya memindahkan titik kemacetan, bukan menyelesaikannya. Integrasi dengan rencana pembangunan akses jalan menuju pelabuhan pun dinilai krusial.

Jika berjalan sesuai rencana, penataan logistik pelabuhan ini diharapkan memperkuat posisi Parepare sebagai poros distribusi barang di kawasan barat Sulawesi Selatan, sekaligus menopang stabilitas pasokan kebutuhan pokok bagi masyarakat di wilayah Ajatappareng.