LANRISANG, PINRANG — Rabu, 19 Agustus 2026. Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang, tidak hanya menjadi momentum mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga menjadi panggung bagi generasi muda untuk menunjukkan hasil dari proses panjang pembinaan dan kedisiplinan.

Di balik barisan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) yang berdiri tegap mengawal Sang Merah Putih, terdapat sosok yang selama 17 tahun berturut-turut konsisten memberikan waktu dan tenaganya untuk membina generasi muda.

Sosok tersebut adalah Hamsah Hamma, staf Trantib Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang, yang selama 17 tahun tetap setia menjalankan tugas sebagai pelatih Paskibra Kecamatan Lanrisang.

Pengabdian tersebut menjadi catatan tersendiri. Selama hampir dua dekade, Hamsah telah mendampingi berbagai generasi muda yang silih berganti mengikuti proses pembinaan Paskibra. Ia tidak hanya mengajarkan ketepatan gerakan dan formasi, tetapi juga menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kekompakan, keteguhan mental serta kecintaan terhadap Tanah Air.

Bagi Hamsah, tanggal 17 Agustus memiliki makna lebih dari sekadar seremoni tahunan. Setiap peringatan kemerdekaan menjadi pengingat pentingnya menjaga dan mengisi kemerdekaan melalui karya, kedisiplinan dan pengabdian.

“Selama 17 tahun menjadi pelatih, saya tidak hanya melatih baris-berbaris, tetapi juga membentuk disiplin, tanggung jawab dan karakter generasi muda. Yang paling membanggakan adalah melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik dan berguna bagi masyarakat,” ujar Hamsah Hamma.

Menurutnya, menjadi anggota Paskibra bukan hanya tentang kemampuan melakukan gerakan secara seragam dan sempurna. Ada proses pembentukan karakter yang jauh lebih penting di balik latihan tersebut.

Setiap langkah, sikap sempurna, penghormatan dan formasi yang dilakukan para anggota Paskibra merupakan hasil dari latihan yang membutuhkan ketekunan, kesabaran dan kerja sama.

Selama menjalankan tugas sebagai pelatih, Hamsah telah bertemu dengan berbagai karakter peserta. Ada peserta yang sejak awal memiliki kedisiplinan tinggi, namun ada pula yang membutuhkan proses pembinaan lebih panjang untuk membangun kepercayaan diri dan mental.

Proses tersebut terkadang tidak mudah. Latihan yang dilakukan berulang-ulang, kondisi fisik yang terkuras, serta tuntutan menjaga kekompakan menjadi tantangan tersendiri bagi para anggota Paskibra.

Namun, bagi Hamsah, semua itu merupakan bagian dari proses pendidikan karakter. Rasa lelah selama latihan seakan terbayar ketika melihat para anggota Paskibra mampu menjalankan tugas pada upacara 17 Agustus dengan penuh percaya diri dan tanggung jawab.

Sebagai staf Trantib Kecamatan Lanrisang, Hamsah juga memandang pembinaan generasi muda sebagai bagian dari kontribusi terhadap masyarakat. Menurutnya, membangun daerah tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga mempersiapkan generasi yang memiliki karakter dan mental kuat.

Ia berharap regenerasi Paskibra Kecamatan Lanrisang dapat terus berjalan dan melahirkan generasi muda yang tidak hanya mampu menjalankan tugas kenegaraan, tetapi juga memiliki prestasi dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

“Kemerdekaan harus diisi dengan hal-hal positif. Generasi muda harus terus belajar, disiplin dan memberikan yang terbaik bagi bangsa. Semoga nilai-nilai yang mereka dapatkan selama menjadi Paskibra terus mereka bawa dalam kehidupan,” pesannya.

Tujuh belas tahun menjadi pelatih Paskibra bukanlah perjalanan yang singkat. Di dalamnya terdapat ribuan jam latihan, keringat, kesabaran, ketegasan, kebersamaan dan berbagai cerita dari generasi ke generasi.

Setiap kali Merah Putih berkibar di langit Lanrisang pada tanggal 17 Agustus, ada kebanggaan tersendiri melihat generasi muda menjalankan tugas dengan penuh kehormatan.

Di balik barisan Paskibra yang berdiri tegap, ada pengabdian yang mungkin tidak selalu terlihat. Selama 17 tahun, Hamsah Hamma memilih tetap berada di sisi lapangan—membina, mendidik dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda.

Pengabdian tersebut menjadi bagian dari wajah lain perayaan kemerdekaan: bahwa mencintai Indonesia tidak selalu harus melalui kata-kata besar, tetapi dapat diwujudkan melalui kerja nyata, ketekunan dan kesediaan membentuk generasi penerus bangsa. (MLP)